Cerita dan Celoteh

Melodi Hujan Malam Ini

Lampu kamarku sudah gelap. Teramat gelap karena aku juga sudah memejamkan mataku. Tapi tidak untuk hatiku. Ia tak juga mau terpejam. Padahal kepala ini sudah teramat sakit menahan lelah seharian ini. Tapi aku benar-benar tidak bisa tidur. Diam. Ya, aku hanya diam. Ku tutupkan sarung kecil ke mataku.

Terdengar suara sisa hujan atau kadang rintiknya yang beralun seperti sebuah melodi. Ah, aku benci mengingat kataΒ melodi. Sungguh aku tak mengerti. Tapi hujan di luar masih saja bernyanyi, entah untuk mengiringi tidurku atau

membuatku terhenyak. Aku tak jua terlelap. Lagi, syaraf-syaraf ini terasa begitu menegang, sakit, tapi tak bisa ku istirahatkan. Arrrggghhh… Bayangan-bayangan muncul dalam diamku. Orang-orang yang ku rindukan. Mereka seperti tersenyum melambai ke arahku. Aku hanya berdoa, Ya Allah, lindungilah mereka, hanya Engkau sebaik-baik pelindung. Kemudian, bayangan itu seperti rentetan sebuah film yang membawaku pada sebuah kisah indah. Tiba-tiba hatiku teramat perih. Ku dengar jelas desah mulutku seperti mengaduh. Ya Allah, ini perih sekali. Basah, lagi-lagi air mata menguasaiku. Dasar CENGENG!!

Aku ingin mengadu tapi entah pada siapa. Tapi aku tahu, pada Engkaulah, Sang Pemilik Waktu, aku harus mengadu. Karena ku yakin, Engkau pasti mendengarkan. Karena padaMu, aku percayakan keluh kesah ini. Ya Allah, ampuni hamba, ini perih sekali, sangat perih Ya Allah. Ku buka mataku. Silau. Lalu pena ini berjalan menggoreskan rintik-rintik hujan malam ini. Biarlah malam ini hujan menjadi melodi. Aku sendiri–lagi–tak mengerti kenapa harus begitu.

Malam ini, perih itu begitu terasa. Hingga alam mimpi tak segera memanggilku. Adakah obat untuk perih ini? Ya Allah, cukup Engkau yang menjadi penolongku. Aku hanya perempuan biasa yang kadang merasakan sakit luar biasa untuk sebuah senyum yang malam ini dengan berani menghampiri pejaman mataku. Ah, kenapa harus terlintas?

Apakah akan teretas?

Biarlah aku terhempas

Biarlah terlepas

Sampai waktu terbebas

dari setiap senyum terampas

 

untuk sebuah senyum tulus yang melintas malam ini

untuk sebuah ingatan yang membuatku merasa perih

untuk sebuah tawa juga air mata

untuk sebuah masa yang pernah meredam tangisku

biarkan hujan bermelodi di wajahku malam ini.. Hanya malam ini..

Semoga esok matahari bersinar cerah lagi..

 

 

Pojok Biru,

Sabtu, 16 Oktober 2010

23:10 WIB

2 thoughts on “Melodi Hujan Malam Ini”

  1. Jika air matamu mulai menetes lagi, ingatlah satu hal.. bahwa penantian tidak akan sia-sia, pasti ada sebuah rancna indah yang akan dia torehkan d akhir nanti.

    1. semua memang sudah di atur, tapi terkadang teramat perih..
      biarlah, menulis seperti ini juga sedikit membuatku lega.. πŸ™‚
      yapp.. DIA punya rencana indah yg masih rahasia… : )

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s