Uncategorized

Sajak Penantian

Rinai angin pada bisu yang menguap

Haruskah menjadi akhir atas apa yang tiada

Lelah aku bertengger pada senyuman

Yang katanya akan membakar

Jadilah air atas api yang membara

Yang tenangkanku dengan damai

Tidak membawaku berpijar pada api

Juga tidak pada sungai yang menenggelamkan

Tapi permadani hijau menyejukkan

Bawalah aku ke sana

Ku ingin menanti di batas waktu itu

####

Selang waktu tiada mencari

Hanya musim alirkan dahaga

Wajah sendu berbalut senyum

Sedikitpun tak mau pergi

Dia indah yang mengulum

Waktu yang terapung mengaum

Menjaga batas waktu di ujung pendulum

Adakah ini senja atas indahnya malam

Atau pagi yang mengeram

Aku pilu di tengah sekam

Atas dahaga pelan mencekam

Terkadang perih tapi tak mau suram

Teringat dia indah yang terdiam

Atas hati yang ia selam

####

Ke mana kepingan angin yang terbang

Saat hati bertanya pada debu

Masihkah sama tentang ini

Kapan aku berhenti memandang debu?

Menyesakkan dada

Tak mau aku diam pada tirani

Lalu ke mana kaki harus berpijar

Jika di atas bara itu aku terbakar

Pojok Biru

19 September 2010

1 thought on “Sajak Penantian”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s