Cerita dan Celoteh

Beberapa Menit Sebelum Bandung..

Aku tak kan lupa kejadian hari ini.

Sore ini, sekitar pukul 15.00 WIB, aku telah siap dengan beberapa tas besar dan sebuah kopor. Sekali lagi, aku mengecek semuanya. Oke, semuanya rebes (ternyata emang rebes, bukan beres :@). Usai solat Asar, aku dan Abah siap melaju ke Tayu (tempat agen bus). Tak lama, sampailah kita di agen bus, yang kebetulan letaknya di depan salah satu bank swasta. Aih, gara-gara bank swasta itulah (padahal dia gak salah apa-apa ya ;)) rentetan kisah singkat ini terjadi.

Bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya?? Hayo, yang bisa nebak tak kasih tepuk tangan tujuh jari.. :D. Yahhh, kalian pasti udah banyak yang nebak kan? Ini pasti ada hubungannya dengan sifat Novi Ahimsa Rosikha yang teledor, panikan, stressan, gugupan, semua yang ‘an. Ha? Apa hubungannya? ^^

Yap yapp. Sayangnya kalian benar. 😦

Sebenarnya bukan salah bank swasta itu yang berdiri gagah di depan agen bus Shantika. Aih, seharusnya aku beruntung berada di depan bank itu. Baiklah, jadi begini, seperti rencana sebelumnya, hari ini (Senin, 2 Agustus 2010), aku akan pindahan ke Bandung. Tentu saja masih di antar oleh Abah tersayang yang selalu mengantarku kemana-mana. Maklum, aku ini anak pertama tapi sedikit manja (baca: gak berani pergi jauh sendirian). Jadi, ditemenin deh. Ups, kok malah ngelantur ya.. 😀

Seperti anak kost lainnya yang di bekali ATM oleh orang tuanya, diriku pun begitu. Untuk kemudahan, Abah memberiku ATM bersama sehingga bisa mengambil uang di ATM bank mana pun. Lalu eh kemudian, tiba-tiba Abah memanggilku sambil memandangi mesin ATM di emperan bank swasta itu. Karena ATM ku masih baru dan belum sempat mengecek, Abah memanggilku.

“Coba ATM kamu cek di bank itu.” Kata Abah.

Nggih, tapi malah belum tak gesek nomor pinnya,” jawabku sambil membuka-buka isi tas mencari kartu ATM yang masih lengkap berada dalam amplop bersama PIN dan TIN. Memang benar-benar masih baru dan belum ku utak-atik. Wajahku mulai berubah. Udah tau kan apa yang terjadi?? Iya, seperangkat kartu ATM itu tidak ada di tasku. T.T

Hampir tidak berani aku melirik wajah Abah. Tapi, perlahan ku beranikan pula memandangnya melas, isyarat bahwa aku tak menemukan apa yang ku cari. Abah mafhum. Anaknya ini memang paling teledor. Dari tadi juga udah dibilangin, cek lagi, cek lagi Himsa, jangan sampai ada yang ketinggalan. Rasanya tadi juga cek berkali-kali. Tapi entahlah…

Aku mulai malu. Para penumpang lain yang juga menunggu kedatangan bus mulai menatapku. Entah apa yang di benak mereka, ada yang kelihatan ikut khawatir, ada yang tertawa dalam hati, ada juga yang bingung mungkin atau malah semuanya. Huh… Sementara aku mulai kucel mengobrak-abrik isi tas.

Abah menelepon Ibu di rumah siapa tahu memang ketinggalan di rumah. Ku lirik Abah pelan, beliau malah mengeluh. Aku jadi takut. “Hp Ibu gak aktif.” Aihh, ingin sekali aku pulang saat itu juga. Abah terus mencoba menghubungi, tapi tetap tak bisa. Lagi dan tak bisa. Orang-orang makin memperhatikan kita. Abah mencoba lagi. Dan gagal lagi. Huvtt…

Akhirnya Abah menyerah menghubungi nomor Ibu. Lalu beliau menghubungi salah seorang yang bekerja di rumah. Masuk. Hhh, Abah yang sedikit mulai kesal mengomel pada Ibu supaya mengaktifkan hp. Ku dengar Ibu berdalih karena hpnya dicari di rumah tidak ada. Aku jadi menyesal. Ini semua pasti karena kekonyolanku. Tapi, aku terus berdalih bahwa aku sama sekali tak mengeluarkan kartu ATM itu dari tas. Orang-orang yang dari tadi memperhatikan kita rasanya mulai iba.

Aku mencari di tas. Ibu mencari di kamarku. Nihil. Aku hampir menyerah. Abah juga. Saat itulah beliau merogoh sesuatu di sakunya dan menemukan sesuatu yang harusnya tidak dibawa. Sementara aku masih berdiam, lalu salah seorang penonton mengajakku berbicara.

“Tapi hafal nomor rekeningnya kan dek?”, sapa salah seorang Ibu-Ibu di depanku.

Aku sedikit mengernyitkan dahi. Rekening?

“Iya, sudah saya save, Buk.” jawabku. Aku bahkan tidak sadar saat menjawab bahwa aku sudah menyimpan nomor rekening itu. Kapan? Kapan aku menyimpannya? Ah, iya, tadi pagi.

Tiba-tiba seperti ada lampu menyala dan berbunyi ‘cling’ di atas kepalaku. Aku mendekati Abah yang seperti orang bingung memencet-mencet tiga hape. Belum sempat aku bicara. “Hapenya ibuk terbawa di saku.” kata Abah. Gubrak, pantesan ditelepon berkali-kali nggak masuk. Lha wong saking gak sadarnya hapenya Ibu di pakai telepon hapenya Ibu. (bingung? Gak kan? Soalnya aku aja bingung nulisnya.. :D)

Sementara menahan tawa, lampu di atas kepalaku makin keras berbunyi ‘cling’. “Bah, telepon Ibu lagi, coba cari di bufet, soalnya kalau nggak salah tadi pagi Abah nyuruh sms nomor rekening. Mungkin aku lupa belum tak kembaliin ke tas.”

Hhh.. Sebenar dua tambah dua ada empat, ATM itu ada di sana. Mungkin tadi pagi aku masih ngigau, jadinya lupa naruh. Itulah penyakitku. Huft.. Untung saja busnya telat. Lalu seseorang berlari dengan Mio secepat bledeg untuk mengantarkan ATM dan mengambil hape Ibu. Hanya satu komentar Ibu, “Ayah dan anak sama aja.” Ah, ibuku sayang, aku jadi iba. Udah di omelin, disuruh bingung, ternyata semua kesalahan ada pada kita. 😀 Peace, Mom!

Mukaku mungkin sudah memerah. Orang-orang yang tadi iba, nyatanya kini tertawa. Huh, malu. Aku malu sekali. Tak sampai lima menit, bus datang. Bandung, perjalananku kali ini untuk sampai ke sana membawa cerita baru yang tak akan ku lupakan. Bagaimanapun, kisah singkat ini sarat hikmah. Jangan teledor lagi, Himsa jeleeek. 😀

Subhanallah, tapi aku terkagum, skenarioNya hari ini begitu unik, sinkron dan pas. 🙂

di atas bus

(antara Pati-Bandung)

8:56 pm

*coba kalau ATMku nggak ketinggalan, mungkin hapenya Ibuk nyampe Bandung. Tambah kasian kan Ibu?? 😀

5 thoughts on “Beberapa Menit Sebelum Bandung..”

  1. oh.. jadi ini ceritanya…

    wah, kmau mirip sama aku ya… sma2 dkit tledor..hehe

    klo aku lebih para, udah sampe dibandung malah… stnk ilang…. 0_0
    gak mungkin balik ke gresik lagi..

  2. Ah, adeeku yang satu ini emang payah ne, kan udah aku bilangin juga tow dek… capek juga bilanginnya, okey sekarang inget bsk puasa, jgn lupa lho… sahurnya jam 4 bukan jam 7, okeh… 🙂

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s