Cerita dan Celoteh

Aku Cemburu..

Aku beranikan diri menyentuh ujung mataku. Entah kenapa terasa ada yang basah di pangkal telunjukku. Ku rasakan lagi. Ya, aku menangis.. Lagi-lagi aku menangis untuk suatu alasan yang aku tak mengerti. Ah, memang benar, inilah aku, si cengeng yang kadang juga tidak sadar kalau sedang menangis.

Lelah.. mungkin aku lelah pada kenyataan. Tapi sebenarnya kenyataan apa yang aku lelahkan? Rindukah ini namanya? Hei, pada siapa aku merindu? Bukan, aku tidak sedang rindu. Aku hanya sedang baca buku. Buku yang mengingatkank

u pada seseorang yang kemarin baru saja menceritakan padaku apa isi buku itu. Dan sekarang buku itu di tanganku, di depan mataku. Lalu? Apa ini yang di sebut rindu? Tidak, aku masih ingin mengelak.

Aku cemburu. Mungkin itu kata yang pas. Aku cemburu pada orang-orang berhati ikhlas yang mampu menerima garis hidupnya hingga ia bisa merasakan cintaNya. Aku cemburu pada angin yang bebas mengalir ke mana saja ia mau. Tapi kemudian aku tahu, anginpun tak sepenuhnya bisa, kadang ia bertarung dengan hujan. Baiklah, aku cemburu pada langit luas yang bisa menjadi langit bagi apapun dan siapapun, kapanpun dan di manapun. Aku cemburu pada kata-kata yang bisa dengan mudah menyampaikan maksud, tapi aku tak pernah bisa merangkainya bila sudah terjebur di lautan itu. Aku cemburu pada apapun yang bisa bahagia dan ikhlas menjalani hidupnya.

Aku ingin seperti itu. Karena dengan keikhlasan aku bisa melanglang buana atas setiap kerinduan. Ikhlas membuatku hanya ingat padaNya. Tapi entah mengapa ikhlas hanya bisa menjadi masalah kata. Sulit sekali menjadi software di hati yang kotor ini. Aku ingin menginstallnya, tapi bagaimana, softwarenya pun aku tak punya.

Aku masih cemburu. Kali ini pada denting jam yang entah kenapa harus berdetak setiap detik. Tak bisakah untuk sekali ini saja bergerak lebih cepat. Oh, tidak, kembalikan saja aku pada dua tahun silam. Saat semuanya tidak terjadi dan sekarang aku akan baik-baik saja. Hmmm.. Tapi ku rasa permintaanku hanyalah buah ketidakberanian menghadapi hidup. Aku tak berani menghadapi koma dan aku tergesa-gesa untuk sampai ke titik. Itu pun aku tak berani dan aku juga ingin kembali pada lembar blank. Aku lebih tak berani lagi menghadapi enter. Terlalu sakit untuk terjun ke paragraf lain. Aku harus memulainya lagi dan pasti juga harus bisa  mengkolerasikan dengan baik.

Sayangnya, aku harus melewati semua itu. Dengan bermodalkan keberanian minimal, aku berani bertaruh. Tapi kini aku sadar, semua yang aku cemburukan akan semakin membuatku cemburu jika mengetahui satu hal. Ya, aku yang tak berani menghadapi tantangan hidup.

Aku masih cemburu..

Aku menangis lagi, kali ini sadar..

Cengeng…

Jakarta

22 Juli 2010

22:19 WIB

6 thoughts on “Aku Cemburu..”

  1. dasar cengeng… lebih baik kembali aja ke dua tahun lalu, dan membiarkan semuanya blank, dan km tdk akan mendptkan temn2 spti yg km dpt skg (*sok tau)

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s