Cerita Fiksi

Tujuh Belas

Senyum Aisa masih mengembang siang itu. Seperti biasa, gigi putihnya yang terjajar rapi selalu terlihat dalam setiap senyumnya. Kadang senyum itu bersembunyi dibalik tarian jilbabnya. Ya, terlihat tulus bagi setiap pasang mata yang memandangnya.

Aisa Isnania tak ubahnya remaja putri lainnya di kelas XII-IPA8. Usianya yang belum genap tujuh belas tahun terkadang membuatnya tampak lebih muda dari remaja putri lainnya di kelasnya. Sebenarnya itu bukan suatu pengaruh besar, toh dua minggu lagi ia genap berusia tujuh belas tahun. Tapi entahlah, ia memang selalu tampak ceria.

“Kamu itu nggak pernah susah ya, Sa? Kayaknya selalu ceria tiap hari. Gimana caranya?”, celetuk salah seorang  temannya di sela jam istirahat.

“Ah, biasa aja kali. Aku ini ya emang begini orangnya. Aku juga sama kayak kalian kok.”

Lalu dia kembali larut dalam keceriaannya. Bercanda tawa dengan teman-teman sebayanya. Sungguh tiada yang mengetahui rahasia apa yang tersimpan di balik rekah senyumnya itu.

***

Cahaya matahari melirik wajah Aisa yang lelah. Membulirkan keringat yang siap jatuh kalau saja ia tak segera menyekanya. Dua langkah lagi kakinya sampai pada rumah di ujung gang itu. Tidak begitu besar, tapi cukup nyaman dan asri. Pelan tapi pasti, ia masuk ke rumah itu.

“Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam. Sudah pulang, Sa? Nggak ada les ya?”, tanya Mama lembut.

“Iya, Ma. Hari ini les ditiadakan. Ada pelatihan guru katanya.”

“Oh..”

“Mbak Risna belum pulang, Ma? Biasanya jam dua sudah pulang.”

“Ada acara ulang tahun temannya. Biasa, anak muda, sweet seventeen atau apalah itu namanya.”

“Oh..”sekarang ganti Aisa yang ber-oh.

Ia terdiam sebentar, lalu memasuki kamarnya, meninggalkan bibinya yang sedang sibuk menjahit baju.

***

“Aisa tidak mau, Ma! Aisa mau ikut Mama sama Papa! Aisa nggak mau ikut Mama Salma. Aisa mau sama Mama. Titik.”

“Tapi, Sayang…”

“Kenapa, Ma? Mama emang nggak sayang sama Aisa, kan? Mama egois.”

“Tahu apa kamu arti egois, Nak? Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti tentang semuanya. Sudahlah jangan berbicara seperti itu, ya? Mama Salma akan merawatmu dengan baik. Dia sama seperti Mama kok. Nanti ada Mbak Risna juga yang menemani kamu. Dia kan sebaya sama kamu.”

“Tapi, Ma? Aisa pasti kangen sama Mama. Mama pulang kan?”

Gadis kecil itu mulai menangis di hadapan ibunya.

“Ma? Mama pulang kan?”

“Nanti kalau kamu sudah dewasa, insyaallah Mama akan pulang, Sayang. Sudahlah, jangan menangis ya..”

“Kapan Aisa dewasa, Ma? Mama mau ke mana? Aisa mau ikut..”, gadis itu masih merengek.

Lalu Dania memeluk gadis itu erat-erat. Hatinya sungguh pilu mendengar rintihan putri semata wayangnya. Tapi, ia sendiri tak mampu apa-apa selain ini. Perlahan, ia lepaskan pelukannya dan ia usap air mata anak gadisnya dengan penuh kasih sayang.

“Ingat pesan Mama ya!”

Dania melangkah pelan, meninggalkan putrinya yang terus menjerit memanggilnya. Tapi langkahnya semakin cepat seiring dengan pecahnya tangis Aisa.

“Mama….!!!!”

***

“Habis pesta ya, Mbak? Gimana? Seru nggak?”

“Yah, gitu-gitu aja lah, Sa.”

“Kenapa ya, Mbak, kebanyakan ulang tahun ke-17 terasa spesial bagi sebagian orang?”

“Mungkin karena tujuh belas tahun itu usia yang sering di anggap sebagai awal kedewasaan seseorang.”

“Dewasa?”

“Coba pikir deh, kita bisa bikin KTP, kalau udah tujuh belas tahun. Kita boleh nonton film, biasanya ada syaratnya, tujuh belas tahun ke atas. Nikah aja minimal harus tujuh belas tahun. Iya, nggak?”

“Hehe.. Iya juga sih. Kenapa nggak pernah kepikiran ya?”

“Udahlah jangan dipikirin, yang pasti, tambah tua kita emang harus tambah dewasa. Oia, tadi handphone kamu ketinggalan di meja makan, kan? Mama kamu telepon.”

“Iyakah??”

Wajah Aisa bercahaya seketika. Ia lalu melompat dari tempat tidurnya dan menyambar meja makan. Risna hanya tersenyum melihat tingkah sepupunya itu.

***

“Akhirnya Mama telepon juga. Sudah tiga bulan nggak ada kabar. Aisa kangen..”

“Maafkan Mama, Aisa. Ada banyak hal yang harus Mama lakukan.”

“Oh, gimana kabar Inggris? Mama baik-baik saja kan?”

Lalu mereka larut dalam hangatnya kasih sayang. Kasih sayang antara anak dan Ibu yang terbentang jarak dan terpisah sepuluh tahun lamanya.

“Ma, bolehkah Aisa tanya sesuatu?”

“Iya.. Apa?”

“Gimana kabar Papa? Kenapa pas Mama telepon Aisa nggak pernah denger kabar Papa? Aisa juga rinduuuuu sekali sama Papa.”

Dania terdiam.

“Ma?”

“Eh, sebentar lagi kamu udah tujuh belas tahun ya?”

“Kok nggak dijawab?”

“Papa baik-baik saja. Udah dulu ya, Sa. Mama ada urusan. Tetep ingat pesan Mama. Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam.”

***

Langit-langit kamar Aisa bagai bioskop untaian kisah masa lalunya. Semakin ia tatap, semakin terbuka lebar lembar itu.

“Ma, Aisa nggak berani tidur sendiri. Aisa ikut Mama sama Papa ya?”

“Sayang, kamu ini udah tujuh tahun, masa nggak berani tidur sendiri?”,  sahut Papa.

“Aisa takut..”

“Ya udah sini sama Mama.”

“Ma, kenapa sih Mama selalu nasihatin Aisa supaya terus tersenyum? Kan kalau lagi sebel Aisa nggak bisa senyum.”

“Senyum itu ibadah.. Itu sabda Rasulullah. Tetaplah tersenyum, walau bagaimanapun kondisi hati kamu. Tersenyum berarti kamu mensyukuri segala yang Allah limpahkan kepada kamu, baik itu menyenangkan atau tidak. Tapi semua yang diberikan Allah, itulah yang terbaik untuk kamu.”

“Mulai sekarang Aisa janji mau senyum terus, Ma, Pa!”

“Nah, gitu donk..”, Papa mengacungkan jempolnya lalu memeluk Aisa.

Hati Aisa semakin menjerit. Sudah sepuluh tahun ia mengubur kenangan masa lalunya. Sosok papa yang selalu ia banggakan sebagai prawira TNI itu amat ia rindukan, Papa yang menyayanginya, kini tak pernah sekalipun menyapanya. Ya, sudah sepuluh tahun. Ia sendiri bingung, ke mana mama-papanya pergi dan mengapa mamanya tega menitipkannya pada bibinya.

Bibinya atau yang biasa ia sapa Mama Salma sudah ia anggap seperti Mama kandungnya. Ia juga bahagia tinggal bersama sepupunya, Risna, yang sudah ia anggap sahabat sejati. Tapi tetap saja, hidupnya terasa tidak lengkap. Apa yang sebenarnya terjadi pada keluargaku sepuluh tahun lalu?

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Dewasa. Ya, jika tujuh belas tahun dianggap sebagai usia kedewasaan seseorang, berarti sebentar lagi ia akan dewasa. Satu minggu lagi usianya genap tujuh belas tahun, tepat pada tanggal 17 November. Apakah ini hari yang dijanjikan Dania?

***

Aisa memang sudah dewasa tanpa ia harus berusia tujuh belas tahun. Ia gadis yang tegar. Sepuluh tahun lamanya derita itu ia simpan, ia tutupi dengan indahnya senyuman yang selalu ia pancarkan. Dan kini, pertanyaan yang mengendap itu sudah sampai ke ulu hatinya, semakin ia pendam, semakin terasa sakit.

“Mama Salma, orang bilang ultah ke-17 itu spesial. Boleh nggak Aisa minta sesuatu di hari ulang tahun Aisa nanti? Sekali ini saja.”, pintanya lembut pada bibinya.

“Iya, Aisa.. Mau minta apa sih? Kok serius banget.”

“Aisa.. Aisa..”, tiba-tiba mulutnya kelu, ”Aisa pengin ketemu Mama. Aisa sudah dewasa.”

Deg! Hati Salma berdesir seketika. Mimik mukanya berubah dalam sekejap.

“Mmm..”

“Aisa udah dewasa, Ma, udah tujuh belas tahun. Sampai kapan Aisa harus menunggu Mama? Aisa ingin menagih janji Mama.” air matanya mulai menetes.

Salma masih terdiam. Pelupuk matanya hampir tidak kuat menahan air mata.

“Ada sesuatu untuk kamu pada tanggal 17 nanti.”

“Oh ya?”

***

Seperti hari kemarin, senyum Aisa masih terkembang dalam setiap untaian langkahnya, entah di sekolah, di rumah, atau dimana pun. Aura keceriaan selalu terpancar dari wajahnya yang ayu tanpa satu pun yang tahu jeritan batinnya. Ia hanya mampu mendaftar pertanyaan-pertanyaan yang sampai sekarang mengendap di hatinya tanpa ia tahu jawabannya. Hatinya berontak. Pikirannya melayang entah berantah.

Hari ini, 17 November yang ia nanti sedang berputar bersama rotasi bumi. Ia masih menunggu jawaban tentang semua pertanyaannya, juga kedewasaannya.

Ya Allah Ya Rabb.. Beri tahu hamba tentang arti sebuah kedewasaan. Hamba tidak tahu kapan hamba dewasa?

Kini senyum itu lenyap perlahan bersama jeritan hatinya. Langkahnya mengayun pelan menuju rumah yang selama sepuluh tahun ini ia diami. Berharap kejutan itu ialah mamanya, seseorang yang selama ini amat ia rindukan.

Sementara itu, Salma tampak bingung Hatinya berdegup. Dari raut wajahnya, tampak sekali ia sedang mengalami dilema besar. Kertas putih di tangannya ia genggam semakin erat.

“Assalamualaikum, Ma!”

Deg! Hampir saja nafas Salma terhenti mendengar suara keponakannya itu.

“Waalaikumsalam.” jawabnya gugup.

“Mama Salma kenapa?”

“Nggak kenapa-napa, Sa. Cuma kaget saja. Sudah cepet ganti baju sana!”

“Ma? Boleh Aisa tahu kejutan apa untuk Aisa?”

Salma terpaku. Sudah tidak ada lagi alasan baginya untuk mengelak. Ia duduk, begitupun Aisa. Sejenak mereka saling berpandangan. Suasana kembali mencair ketika Risna datang dan bergabung bersama mereka.

“Selamat ulang tahun, Aisa!” ucap Risna sambil mengulurkan tangannya.

Aisa menyambut tangan Risna, “Terima kasih banyak ya?”

“Cie.. besok buat KTP ya? Udah gede ni.” ledek Risna menggoda.

“Hemm… Aku mau tanya, apakah sekarang aku udah bisa dikatakan dewasa?”

“Menurutku, kamu udah dewasa jauh sebelum kamu berusia tujuh belas tahun, Sa.” jawab Risna.

“Kalau aku memang sudah dewasa dari dulu, mengapa Mama tak pernah kembali sesuai janjinya? Sekarang aku sudah tujuh belas tahun, seandainya aku memang belum bisa dikatakan dewasa, setidaknya sekarang aku sudah cukup umur. Seperti kata Mbak Risna, aku juga udah boleh buat KTP. Tapi kenapa Mama belum juga pul…” Aisa menghentikan kata-katanya ketika air matanya mulai menetes.

“Aisa… ada yang mau Mama Salma bicarakan.”

“Mengenai kejutan itu?”

Salma mengangguk, lalu menyerahkan kertas yang dari tadi berada di genggamannya. Aisa menerimanya dengan gemetar. Dibacanya pelan-pelan surat itu.

Aisa anak Mama yang cantik, pelita hati Mama.. Maafkan Mama… Bukan maksud Mama untuk meninggalkanmu, tapi wajahmu membuat Mama tak berdaya hingga terpaksa harus meninggalkanmu.

Mama tahu sekarang kamu sudah dewasa dan bisa mengerti semua keadaan ini. Mama ingin melupakan semua tentang Papa. Mama tahu, diri ini tak ubahnya seorang pecundang yang belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Dan melihat wajah kamu, hanyalah mengingatkan Mama pada papa kamu. Maafkan Mama…Tapi Mama telah memilih untuk ikut bersama Papa kamu. Mama tidak bisa tersenyum menjalani pahitnya kehidupan seperti yang selalu Mama pesankan kepada kamu. Tapi, ingatlah pesan Mama, tetaplah tersenyum, Mama tidak ingin kamu seperti Mama yang menyerah dan rapuh.

Selamat tinggal, Sayang…

Aisa berhenti membaca. Tangisnya pecah, begitu pun Risna dan Salma. Aisa mengerti sekarang, jawaban itu ia dapatkan tepat di usianya yang ke-17. Risna benar, Aisa memang sudah dewasa jauh sebelum ia berusia tujuh belas, ia tahu bagaimana menyikapi hidup. Selama sepuluh tahun ini, ia sama sekali tak pernah menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Barulah ketika usianya mencapai tujuh belas tahun, ia berani memuntahkan pertanyaan dari hatinya, karena yang ia tahu, pada usia itu seseorang telah dianggap dewasa.

“Lalu telepon-telepon itu? Lalu soal Inggris?” tanya Aisa sambil tergugu.

Risna dan mamanya saling berpandangan.

“Maafkan kami.” Ucap Salma akhirnya.

“Kamu boleh marah, Sa.”lanjut Risna.

“Bagaimana mungkin aku bisa marah kepada orang-orang yang telah menemaniku menuju kedewasaan hingga usiaku kini tujuh belas tahun? Seharusnya aku tidak pernah menanyakan ini, aku bertanya seakan-akan aku tidak bahagia hidup bersama kalian. Maafkan aku ya, Ma, Mbak…”

Salma dan Risna begitu terharu mendengar jawaban itu. Sama sekali tak terlintas di benak mereka bahwa inilah reaksi Aisa begitu mengetahui semuanya.

“Kedewasaan seseorang memang tidak dapat ditentukan dari umur. Kamu pandai menyikapi hidup, Sa. Mama Salma bangga sama kamu. Di usia kamu yang ke-17 ini lengkap sudah kedewasaan kamu, semua pertanyaan kamu terjawab dengan begitu pahit, tapi kamu pandai menanggapi jawaban ini.”

“Aku hanya berpegang pada pesan Mama. Aku ingin tetap tersenyum.”

Mereka tersenyum bersama. Begitulah Aisa, gadis berjilbab dengan senyum khasnya kini bahagia walau kenyataan pahit yang diterimanya. Mama dan Papa tetap hidup bersama senyumku.

-selesai-

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s