Prosa dan Puisi

Pertemuan

Siapa bilang pertemuan itu membunuh rindu? Ia hanya melipatgandakannya lalu diam-diam menikammu dari belakang. Kamu terhunus dalam bahagia. Lalu kamu menahan tangismu setelah ia kembali pergi. Kamu ingin hari itu berjalan lebih dari 24 jam. Tapi kamu pura-pura tersenyum. Punggungnya menyapamu untuk terakhir kali sebelum tubuhnya tak menyisakan bayangan. Kamu seperti bermimpi. Tapi itu nyata.

Ah, mereka bilang pertemuan itu pangkal rindu. Tapi bagimu ia tunas untuk lahirnya rindu-rindu yang terus bereplika. Kamu sempat lupa bahwa pertemuan bukan berarti harapanmu boleh tumbuh. Ah, kamu protes. Apakah bahagia tak juga diizinkan? Kamu hanya bahagia karena mimpimu menjadi kenyataan dalam sekejap. Kamu hanya teringat tahun-tahun sebelum hari itu, pertemuan macam itu harus kamu bayar dengan sebuah kekecawaan ketika kamu terbangun. Hanya mimpi.

Kamu tak peduli lagi apa kata mereka tentang pertemuan. Kamu hanya tahu, pertemuan itu membahagiakanmu walaupun di saat bersamaan menikammu. Walaupun harus dibayar dengan rasa sesak melihatnya kembali pergi, pertemuan tetaplah hadiah bagimu. Walaupun harus membunuh harapan yang diam-diam menumbuh, pertemuan tetap saja jawabanmu atas berbagai harapan. Walaupun harus memeras lagi air matamu oleh lipatan rindu, pertemuan tetap saja pengukir senyum yang terlalu lama kamu nanti.  Continue reading “Pertemuan”

Cerita dan Celoteh, Mama Lyfe, parenting

Belajar di PSPA Bareng Abah Ihsan, Impactful!

Beberapa waktu lalu, KIMI (Komunitas Ibu Muda Indonesia) kasih challenge buat mencoba hal baru dengan cara ikut event yang belum pernah dicoba. Aku yang notabene adalah mama-mama rumahan yang kalau udah lelah hobinya neror suami biar cepet pulang, kali ini coba ambil tantangannya. Pasti bingung dong ikut event apa secara nggak banyak temen di Medan. Info pun terbatas. Akhirnya scroll sana-sini di instagram, dan salah satunya ketemulah sama @mommiesprojectmedan. Ada beberapa komunitas yang aku temui juga berkat challenge ini. Beberapa aku juga gabung. MasyaAllah di luar dugaan, challenge ini bawa aku ke banyak kesempatan lainnya.

Dari @mommiesprojectmedan, aku tahu akan ada PSPA bareng Abah Ihsan di Medan. Tapi entahlah, aku belum tertarik daftar. Satu, aku sebenarnya sempat ada di fase menghindari seminar parenting. Why? Lelah aja. After effect-nya ngerasa gagal jadi ibu. Aku nggak bisa praktek sesempurna dan seideal kayak apa kata artikel. And so on. Rasanya aku udah hafal semua isi artikel tentang menjadi ibu ideal. Dan aku beneran lelah. Dua tahun terakhir, aku hampir nggak pernah cerita soal gaya parenting di medsos, pernah ada yang request via DM, aku bilang nggak. Paling aku reshare saja jika ada artikel yang menurutku bagus dan nggak menghakimi. Aku nggak sempurna buat cerita soal parenting. Dalihku. Alasan lainnya adalah nanti anak gimana dong kalau aku ikut PSPA? Sama siapa? Belum siap ninggalin mereka. And so on.

Sampai akhirnya, temen-temen dekatku malah ngajakin daftar. Aku jadi berpikir ulang. Empat tahun terakhir, aku udah berproses dengan segala riuh rendahnya kehidupan baruku sebagai ibu, aku rasa sudah waktunya aku memang harus belajar, melawan segala ketakutan, serta berprasangka baik. Aku juga udah sering lihat profil Abah Ihsan dan sepertinya materinya bagus. Bismillah semoga diri ini sudah cukup siap untuk belajar lagi.

Setelah diskusi sama suami, kami sepakat nggak bisa ikut berdua. Harus salah satu karena suami masih berat jika harus menitipkan anak di daycare. Maka bismillah, akulah yang akhirnya ikut.

Hari pertama, jujur saja aku nggak berekspektasi banyak. Bayanganku ya ini seminar parenting gitu lah pasti diajarin cara didik anak. Pokoknya ya niat belajar aja. Ternyataaaaa. Jeder!

Continue reading “Belajar di PSPA Bareng Abah Ihsan, Impactful!”

Mama Lyfe

Sepuluh Hari Kebaikan

Konsisten oh Konsisten. Jika ada yang lebih susah dari memulai, adalah konsisten mengerjakannya. Itu bener banget. Dan tips paling ampuh agar bisa konsisten ya dengan terus dikerjakan. Lagi, aku belajar tentang ini.

September ini, KIMI kasih challenge buat para membernya untuk melakukan satu kebaikan selama sepuluh hari berturut-turut. Aku yang emang kala itu lagi getol diet langsung kepikiran mau senam selama sepuluh hari nonstop.

Wah, on fire banget dong. Setiap hari senam selama 30 menit. Asli itu enak banget di badan. Sebenernya udah mulai ngerjain ini dari Agustus tapi dang tek alias nggak konsisten tiap hari. Jadi challenge KIMI September kurasa cocok banget sama rencanaku. Kumulai lagi supaya bisa senam tiap hari. Ternyata? Gagal di hari ke-5. Aku kelelahan. Rehat sehari, aku ulangin lagi besoknya, tapi bukan senam, kali ini nyoba exercise buat mengencangkan otot perut. Lalu baru dua hari aku udah hands up. Kafin sakit, dia nenen nonstop, dan badanku rentek semua. Aku juga ikut sakit.

Ya Allah aku sedih. Gagal dua kali. Hiks.

Continue reading “Sepuluh Hari Kebaikan”

Event, Review

Menyicip Berbagai Rasa di Pucuk Coolinary Festival

Apa? Ada festival kuliner di Medan dari Teh Pucuk Harum? Waaa langsung seneng banget dong karena aku tuh dasarnya doyan banget jajan. Udah kebayang pasti bakal ada banyak pilihan makanan di sana. Begitu tahu tanggalnya, aku langsung ngajakin temen-temen buat dateng. Ya walaupun waktu itu aku lagi diet, tapi nggak apa-apa. Kapan lagi kan ada event sekeren ini?

Continue reading “Menyicip Berbagai Rasa di Pucuk Coolinary Festival”

Cerita dan Celoteh

Cerita Pernikahan: Dari Tak Kenal Hingga Ta’aruf

Beberapa waktu yang lalu, ada yang nanya di IGS, gimana sih ceritanya dulu waktu ta’aruf sebelum menikah? Lalu aku terpikir untuk kembali menulis cerita ini lagi di blog. Sebenarnya sih cerita gimana aku nikah udah aku share di buku ‘Cinta yang Baru‘ lengkap. Tapi di tulisan kali ini, aku mau cerita tentang persiapannya.

Aku menikah umur 22 tahun 3 bulan, muda apa nggak relatif yaa. Takdir Allah, ketemu jodohnya di usia segitu. Dan iya, aku menikah sama seseorang yang aku nggak kenal sama sekali sebelumnya. Kok bisa? Aku juga nggak tahu. Padahal sebelumnya aku tuh percaya jodoh ada di lingkaran terdekat kita, entah temen sekolah atau kuliah atau organisasi gitu. Eh ndilalah kalau sama yang udah kenal ya gagal terus di prosesnya. Lalu di saat aku mulai menyerah urusan jodoh, ujug-ujug ‘ketemu’ kakak kelas di kampus yang beda empat tahun, beda jurusan, pokoknya nggak pernah ketemu blas lah. Ketemunya aku kasih tanda petik, karena kita belum ketemu secara langsung. Waktu itu hanya via BBM. Dia udah kerja di Medan, dan aku lagi meniti asa menjadi penulis di Bandung. Ceileh meniti asa 😆

Continue reading “Cerita Pernikahan: Dari Tak Kenal Hingga Ta’aruf”

Cerita dan Celoteh, Prosa dan Puisi

Aku Takut Jika…

Aku takut jika orang yang kusayangi pergi meninggalkanku lebih dulu.
Lalu seorang teman menyadarkanku..
Bisa jadi, kitalah yang pergi terlebih dulu. Apa yang sudah kita siapkan?

Aku takut jika esok lusa, hidupku tak berkecukupan.
Lalu sesuatu menyadarkanku.
Bisa jadi, dari dulu aku sudah selalu diberi kecukupan. Tapi aku saja yang lupa mensyukurinya.

Aku takut jika ternyata, apa yang kumau tidak menjadi kenyataan. Lalu teman kembali menyadarkanku. Tugas kita itu memohon lewat doa, tapi bagaimana hasilnya bukan kita yang berhak mengatur.

Aku takut jika ternyata, aku menghadapi sesuatu di luar kemampuanku. Lalu sebuah kajian yang kuikuti mengingatkanku. Jika kita takut tidak mampu menghadapi sesuatu, maka perbanyaklah ilmu tentang sesuatu itu. Siapkanlah bekal sebanyak mungkin sebagai usaha untuk memampukan diri.

Aku takut jika suatu hari hidupku menjadi susah karena sesuatu. Lalu sebuah tulisan yang kubaca mengingatkanku. Sesusah apapun hidup, tugas kita adalah menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Jika kita ingat Allah dalam keadaan apapun, maka segala susah terasa indah.

Sering sekali, kita memikirkan masa depan. Sampai lupa menikmati saat ini. Sering sekali, kita menyesalkan masa lalu, sampai lupa, kebaikan yang kita alami hari ini adalah buah dari proses panjang yang kita alami di masa lalu. Semua saling berkelindan. Menjadi sebuah takdir, yang seharusnya kita terima. Kita nikmati. Kita rasakan.

Kita hidup di saat ini. Beribadah di saat ini. Memohon ampun untuk masa lalu tanpa berandai mengubah takdirnya. Menyiapkan usaha terbaik untuk masa depan tanpa menakutkan banyak hal. Kita tahu, yang sulit seringkali bukanlah usahanya. Tapi bagaimana tetap yakin pada-Nya dalam kondisi apapun, bahkan saat yang kita usahakan belum tercapai.

Continue reading “Aku Takut Jika…”

Mama Curhat, Mama Lyfe

Trik Mengurus Rumah Tangga Tanpa ART

Foto ilustrasi dari free photo library

Hai haloo. Ahimsa kembali lagi ngeblog. Kali ini aku ingin cerita pengalaman sebagai mama dua anak balita yang seringkali sok rempong sendiri dan jadi alasan biar nggak nulis 😂. So, kali ini aku mau nulis. Mau terus melawan segala kemageran ceritanya. Mager nulis, ya lawan deegan nulis. Males nyapu, ya lawan dengan cepet ambil sapu lalu kerjakan. Males nyetrika, ya cepet nyetrika. Karena cara melawan males ya dengan dikerjakan. Bukan begitu buibu?

Jadi ceritanya, beberapa waktu ini aku mencoba menerapkan pola yang lebih disiplin supaya nggak keteteran ngurus rumah dan anak. Apalagi suami sering banget ada kerjaan keluar kota kan. Sementara itu, kami sepakat untuk nggak pakai jasa ART (Asisten Rumah Tangga) karena beberapa hal. Jadi kalau suami pergi tuh, biasanya rewel rungsing sendiri aku tuh. Selain capek karena ngurus semua sendiri, ya gimana gitu ya nggak ada temen ngomel sebelum tidur. Kalau ada suami kan, sepulang suami kerja, ada yang nemenin anak-anak, aku bisa melipir beberes. Abis itu ada temen ngobrol. Nah kalau dia nggak ada, ya aku harus atur banget supaya tetep bisa beberes tanpa nunggu ada yang jagain anak-anak.

Nah, lama-lama aku mikir, ya masa mau rungsing terus tiap suami keluar kota?
Lalu aku praktekkan beberapa trik ini. Well, ini juga trial error sih sampai aku ketemu di titik ini. Setiap rumah tangga pasti punya cara yang berbeda. Tapi semoga saja satu atau beberapa dari trik ini bisa diterapkan juga untuk mengurangi kerempongan mama dalam bekerja dan berpikir. Tsaaah.

Berikut trik mengurus rumah tangga tanpa ART versi Ahimsa.

Continue reading “Trik Mengurus Rumah Tangga Tanpa ART”

Review

Film Mahasiswi Baru, Film Kocak Layak Tonton

Beberapa bulan terakhir, aku lagi hobi banget nonton youtube. Dan setiap nonton youtube, pasti selalu saja muncul trailler film di beranda. Hingga suatu ketika, sampailah aku di film ‘Mahasiswi Baru’. Awalnya sih penasaran aja ini film tentang apa sih. Lalu iseng nonton, eh udah ngakak dong aku dari menit pertama. Asli, ini film komedi Indonesia yang fresh banget baik dari segi cerita maupun pemainnya yang tampak berbeda dari perannya sebelumnya. Akhirnya aku malah nonton beberapa kali.

Poster Film Mahasiswi Baru

Film bergenre komedi garapan Monty Tiwa ini bercerita tentang seorang nenek berusia 70 tahun yang masih semangat belajar dan ikut kuliah. Selayaknya mahasiswi baru, si nenek bernama Lastri yang diperankan oleh Widyawati ini, pun ikut OSPEK. Kebayang nggak sih, betapa kocaknya Widyawati, yang biasanya berperan sebagai ibu peri yang kalem di filmnya, kali ini jadi mahasiswi baru? Ikut OSPEK dan punya geng anak-anak muda yang usianya saja terpaut setengah abad? Ikutan ngomong ‘Yoayyy Brayy’. Hahaha lucu asliii.

Selain Widyawati yang berakting berbeda, film ini juga menawarkan akting apik dari Selamet Rahardjo. Dan yang tak kalah seru, Morgan muncul lagi di kancah film Indonesia sebagai Danny dengan akting yang makin matang dan karakter yang juga berbeda dari peran dia sebelumnya. Selain Morgan, ada juga Mikha Tambayong (Sarah) dan Sonya Alyssa (Reva) yang tampil semakin cantik di film ini. Dan yang tak kalah seru, Umay yang memang sering akting kocak, juga hadir menambah keseruan dengan perannya sebagai Ervan. Coba bayangin, Morgan, Mikha, Sonya, dan Umay bergabung satu geng dong dengan Widyawati? Dan oh ya, Karina Suwandi juga hadir sebagai Anna, anak dari Widyawati yang di sini perannya jadi anak rasa ibu karena harus nasihatin ibunya sendiri biar nggak bikin ulah sama geng kampusnya 😆😂

Kalau nonton trailler-nya, pasti udah bisa ketawa sakit perut kok sama joke-joke yang ditawarkan. Aku sendiri paling suka bagian Lastri OSPEK terus ditanya kakak kelasnya, “kamu lahir tahun berapa?”. Dan dia jawab “70 tahun lalu.” Hahaha. Itu epic banget sih. Siapa kakak kelas siapa lebih tua. Wkwkwk.

Ada juga pas Lastri (Widyawati) berkumpul dengan teman gengnya, terus mereka rapat tentang apa nama gengnya. Dan Lastri bilang, ini bukan geng tapi paguyuban. Dan yang lain kompak bilang “Tua kali”. Ada juga yang Widyawati mau nyontek pas ujian, eh nggak kelihatan dong karena matanya udah tua. Hahaha gitu ya nenek-nenek kalau gaul sama millenial.

Ending trailler-nya juga nggak kalah epic. Jadi mereka ceritanya mau kabur gitu kan lewat jendela. Eh nggak nyadar dong kalau itu tuh jendela lantai 3? Ekpresinya itu lho dapet banget.

Aku yakin filmnya nanti bakal lebih seru dan menghibur banget. Cocok ditonton oleh semua kalangan. Yang lagi kuliah apalagi, pasti bakal makin semangat kuliahnya. Masa kalah sama nenek-nenek kan?

Film ‘Mahasiswi Baru’ juga bisa jadi rekomendasi film keluarga yang layak tonton di 2019 ini. Karena selain kocaknya, ada makna besar yang ditawarkan di film ini, yaitu tentang pentingnya belajar tak kenal usia. Serta bagaimana konflik keluarga dibahas. Aku sendiri penasaran sih kenapa Lastri memutuskan kuliah lagi di usianya yang sudah 70 tahun? Pasti deep banget.

Biar aku nggak penasaran sendiri, kita tunggu bareng-bareng aja deh yaaa. Nanti insyaAllah film ‘Mahasiwi Baru’ bakal tayang tanggal 8 Agustus 2019. Jangan lupa saksikan yaa film ‘Mahasiwi Baru’ di bioskop kesayangan kalian.

Nah sambil nunggu, kita intip aja lagi trailler-nya yuk..