Prosa dan Puisi

Pertemuan

Siapa bilang pertemuan itu membunuh rindu? Ia hanya melipatgandakannya lalu diam-diam menikammu dari belakang. Kamu terhunus dalam bahagia. Lalu kamu menahan tangismu setelah ia kembali pergi. Kamu ingin hari itu berjalan lebih dari 24 jam. Tapi kamu pura-pura tersenyum. Punggungnya menyapamu untuk terakhir kali sebelum tubuhnya tak menyisakan bayangan. Kamu seperti bermimpi. Tapi itu nyata.

Ah, mereka bilang pertemuan itu pangkal rindu. Tapi bagimu ia tunas untuk lahirnya rindu-rindu yang terus bereplika. Kamu sempat lupa bahwa pertemuan bukan berarti harapanmu boleh tumbuh. Ah, kamu protes. Apakah bahagia tak juga diizinkan? Kamu hanya bahagia karena mimpimu menjadi kenyataan dalam sekejap. Kamu hanya teringat tahun-tahun sebelum hari itu, pertemuan macam itu harus kamu bayar dengan sebuah kekecawaan ketika kamu terbangun. Hanya mimpi.

Kamu tak peduli lagi apa kata mereka tentang pertemuan. Kamu hanya tahu, pertemuan itu membahagiakanmu walaupun di saat bersamaan menikammu. Walaupun harus dibayar dengan rasa sesak melihatnya kembali pergi, pertemuan tetaplah hadiah bagimu. Walaupun harus membunuh harapan yang diam-diam menumbuh, pertemuan tetap saja jawabanmu atas berbagai harapan. Walaupun harus memeras lagi air matamu oleh lipatan rindu, pertemuan tetap saja pengukir senyum yang terlalu lama kamu nanti.  Continue reading “Pertemuan”

30 Hari Ngeblog Ramadhan, Cerita dan Celoteh, Prosa dan Puisi

Ketika Aku Tidak Mampu

Dear Aku, apa yang sedang kamu pikirkan? Mengapa tak henti kamu rutuki dirimu sendiri? Berhentilah menghujani dadamu dengan sederet perasaan bersalah.

Coba lihat lagi, lihat lebih dalam. Kamu bukannya bersalah, kamu hanya tidak mampu. Dan itu tidak apa-apa. Tidak semua hal mampu kamu kerjakan. Sungguh, itu tidak apa-apa. Karena kamu juga manusia yang tidak maha segala.

Setidaknya, kamu tahu kamu sudah berusaha. Kamu tidak menyerah tanpa melakukan apapun. Kamu sudah berjuang. Tapi akhirnya kamu tetap tidak mampu. Sekali lagi, itu tidak apa-apa. Justru ucapkanlah terima kasih pada dirimu sendiri karena telah mau berjuang sekeras itu.

Aku tahu kamu masih sedih karena kegagalan atau ketidakmampuanmu ini. Pasti karena kamu mulai membandingkan dirimu dengan orang lain. Iya kan?

Mengapa dia bisa berjuang lebih keras lagi sedangkan untuk sampai di sini saja aku tak sanggup?

Mengapa dia malah bisa meraih itu semua tanpa perjuangan yang berarti?

Ya, aku bisa mendengar jerit di hatimu.

Continue reading “Ketika Aku Tidak Mampu”

Cerita dan Celoteh, Prosa dan Puisi

Agar Tetap Menulis di Kala Rempong

Sebagai mama dengan dua anak balita, terkadang aku merasa menjadi orang paling rempong sedunia yang nggak bisa ngerjain apa-apa selain momong anak. Padahal yaaaa, sebenernya nggak gitu-gitu kali.

Prinsipku, selama kita masih bisa buka instagram dan baca whatsapp, selama itu pula kita masih bisa produktif. Nah selanjutnya, itu tinggal masalah kemauan. Mau atau tidak. Dan hanya kita sendiri yang tahu alasan pastinya.

Produktif itu sendiri macam-macam ya definisinya, dan setiap orang berbeda. Terkadang, dengan menyelesaikan setrikaan juga aku merasa produktif wkwkw. Tapi karena aku di sini memang profesiku juga penulis, salah satu indikator produktifku ya ketika menulis.

So, tentukan dulu produktif versi kamu yang seperti apa. Dan lagi-lagi, ini butuh yang namanya self awareness, alias kenal sama diri sendiri. Biar produktifnya kita itu bukan standardnya orang lain. Kan lelah udah ngejar ini itu ternyata nggak puas. Nggak memenuhi kebutuhan diri sendiri. Cuma nurutin ego biar nggak kalah sama yang lain #eh.

Baiklah, kali ini aku mau kecilin lingkup khusus menulis ya karena ini keseharian aku.

“Himsa, gimana sih bisa tetap nulis sambil ngurus dua balita gitu?”

Banyak yang nanya gitu, dan rata-rata ibu-ibu dengan anak toddler. Tahu lah ya gimana lelahnya ngurus todler yang lagi asyik lari sana-sini. Sebenernya bukan ibu-ibu aja sih yang rempong dan jadi males nulis, banyak. Alasannya macam-macam.

Nah, sebenarnya aku sendiri pun tak serajin itu. Ada kalanya juga males banget. Capek. Me time nya mau nonton youtube ringan aja. It’s okay. Tapi ya itu tadi, menulis sama aku itu kayak udah ada ikatan emosionalnya. Jadi, aku merasa aku ada ketika aku menulis. Aku merasa legaaaa banget kalau selesai nulis. Makanya aku ikut event yang bikin aku menulis secara berkala. Nah, di Ramadan ini, aku ambil tantangan menulis selama tiga puluh hari.

Oh, ya, balik lagi. Gimana tuh bisa nulisnya?

1. Tentukan strong why
Temukan alasan yang kuat kenapa sih kamu harus nulis. Kalau aku ya karena nulis itu udah jadi kebutuhan aku. Kalau lama nggak nulis rasanya kayak ada yang sesak gitu. Setelah itu niatin dulu bakal konsisten. Nah terserah mau setiap hari atau setiap minggu atau gimana kamu deh. Yang paling penting, komitmen ke diri sendiri akan menjalaninya dengan baik.

2. Manajemen waktu
Punya anak ini terkadang ngatur waktunya lumayan bikin ngos-ngosan, karena kan mereka nggak bisa kita setting kapan anteng, kapan heboh. Jadi ya kita yang harus pelajari. Trial error pasti. Nanti lama-lama ketemu kok polanya. Kalau aku biasanya nulis pas nunggu Kafin tidur nyenyak. Dia itu sering udah tidur tapi nggak mau ditinggal gitu, jadi harus nempel sama kita. Nah saat itulah aku ambil HP dan ketik-ketik sambil nunggu dia nyenyak.

3. Fleksibel
Nggak usah nunggu ada laptop dulu baru nulis. Inilah yang kumaksud tadi kita masih bisa produktif selama masih bisa baca whatsapp dan buka IG. Karena ya sebenarnya waktu yang kita pakai untuk terlalu lama membaca media sosial itu, bisa kita pakai untuk produktif, baik menulis ataupun yang lain.
Nah, dengan menulis di HP, kita bisa nulis di mana aja. Dulu pas masih kerja, aku selalu nulis di atas transjakarta. Karena jauh kan, jadi lumayan.

Oh ya, kalau aku pakai aplikasi namnya writer. Ini apilkasi ringan tapi bisa lihat udah berapa kata nulisnya, dan lain-lain.

So, masih ada alasan untuk tidak produktif? Silakan. Nggak apa-apa pun jika itu piluhanmu. Tapi jangan lupa semuanya ada konsekuensinya. Jangan sampai kita menikmati suatu pilihan yang kita ambil tapi mengeluh dengan konsekuensinya. Nanti lelah sekali.

Kurang lebih begitulah ya tips tetap bisa menulis meskipun rempong ala ahimsa. Selebihnya ya kembali ke kita sendiri, mau atau nggak.

Semoga bermanfaat. See ya to the next post..

Medan,
9 Mei 2019
22.18

30 Hari Ngeblog Ramadhan, Prosa dan Puisi

Untuk Aku Jika Sedang Kesal

Dear Aku, suatu hari kamu pasti pernah kesal. Entah pada seseorang atau keadaan yang seakan tak berpihak padamu. Kamu ingin marah, dadamu sesak. Ingin rasanya semuanya kamu salahkan.

Jika itu terjadi, duduklah sebentar. Tarik napasmu lebih dalam. Kamu boleh menulis semua kekesalanmu di selembar kertas kosong, lalu sobeklah sekuat tenaga. Lampiaskanlah semua amarah yang menyesakkan dadamu itu melalui goresan penamu.

Tapi wahai aku, maukah kuberi tahu dirimu sesuatu? Ini pengingat untukmu, diriku sendiri. Simak baik-baik ya. Continue reading “Untuk Aku Jika Sedang Kesal”

30 Hari Ngeblog Ramadhan, Mama Curhat, Mama Lyfe

Berdamai dengan Keterbatasan Diri

Fiuhhhh. Begitulah leganya aku ketika rumah sudah bersih, anak-anak tidur dan mereka sudah makan, semua urusan rumah beres dan target harianku selama puasa terpenuhi. Eh tunggu, terpenuhi?

Ternyataaaa, jauh, Pemirsa. Target bacaan Qur’an belum maksimal, hari ini gatot nulis sesuai tema, dan diuji banget dengan aktivitas anak-anak seharian. Rasanya kuingin marah melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri di sini, lah malah nyanyi.

Tulisan ketiga hari ini harusnya ada temanya sesuai challenge yang aku ikuti. Iya, aku sedang mengikuti tantangan 30 hari menulis blog. Tidak tanggung-tanggung, aku mengikuti dua event dari dua komunitas sekaligus, dari @bloggerperempuan dan @bloggersumut. Terkadang satu tulisan bisa untuk dua event itu sekaligus, tapi jiwa perfeksionis dalam diriku sering memberontak ingin menulis dua topik yang berbeda. Apalagi untuk @bloggerperempuan temanya ditentukan.

Nah sayangnya, tema yang sudah kusiapkan untuk hari ketiga ini gagal aku eksekusi karena aku kehilangan struk pembelian produk yang akan diulas. Bete? Banget. Continue reading “Berdamai dengan Keterbatasan Diri”

30 Hari Ngeblog Ramadhan, Cerita dan Celoteh, Prosa dan Puisi

Tentang Prasangka Baik

Ketika kita sudah berusaha berprasangka baik, tapi ternyata hasilnya tetap tidak baik, itu rasanya ingin menyerah saja. Buat apa selama ini berprasangka baik? Toh yang terjadi tetap saja buruk. Tetap saja tidak tidak sesuai harapan kita.

Eh tunggu, buruk versi siapa?

Kita mungkin lupa bahwa berprasangka baik itu tidak sekadar berarti berprasangka bahwa sesuatu akan terjadi sesuai keinginan kita. Tapi berprasangka baik juga percaya, bahwa apa yang akan terjadi nanti setelah segala usaha kita, adalah yang terbaik yang diatur Allah–entah sesuai dengan keinginan kita atau tidak. Berprasangka baik itu meyakini, bahwa seburuk apapun keadaan yang menimpa kita, tersimpan hal baik yang sedang disiapkan Allah.

Mungkin tidak sekarang hikmahnya bisa kita ambil. Mungkin nanti. Karena itu prasangka baik selalu berpasangan dengan bersabar.

Prasangka baik bukan pula berarti mengabaikan segala emosi negatif yang sedang kita rasakan. Tak perlu berpura-pura kuat jika memang sedang lelah. Tak perlu berpura-pura sabar jika memang sedang kesal. Tak perlu pula berpura-pura memasang senyum paling manis di media sosial tapi menyimpan sejuta luka di kehidupan nyata.

Berprasangka baik berarti kita menerima itu semua. Boleh lelah, boleh marah, boleh berhenti sejenak dari hingar bingar dunia jika memang terasa begitu sulit untuk sekadar tersenyum. Lalu salurkanlah dengan cara yang baik. Entah menulis, bersih-bersih, menangis dalam salat, atau apapun.

Continue reading “Tentang Prasangka Baik”

30 Hari Ngeblog Ramadhan, Mama Curhat, Mama Lyfe

Tempat Buka Puasa Favoritku Selama di Medan

Hmm sebenarnya, kalau ngomongin tempat buka puasa favorit mah di rumah ya. Ngumpul bareng-bareng, makan apa aja juga seru. Tapi kadang memang ada momennya kita makan di luar, entah bertepatan dengan acara buka bersama atau ya sekadar mau cari suasana baru bareng keluarga.

Selama tinggal di Medan sih, ada dua tempat yang cukup mengena buat aku kalau lagi buka di luar. Mari coba kita ulas yaa..

Continue reading “Tempat Buka Puasa Favoritku Selama di Medan”

Cerita Fiksi

Buka Puasa Pertama Denganmu

Aku teringat lima tahun lalu, saat pernikahan kita baru berusia sebulan. Ramadhan pertama kita sebagai sepasang suami istri. Saat itu semuanya masih terasa manis. Menjelang berbuka, beberapa pesan masuk meramaikan grup whatsapp-ku. Juga grup yang sama dengan punyamu. Alumni IPA G SMA Cahaya 5 Surabaya.

“Ciye, yang buka sama sahurnya ada yang nemenin.”

“Ciye, buka puasanya masakin seseorang nih.”

“Ciye, puasanya barengan. Awas batal siang hari yaaa. Wkwkw.”

Aku tertawa sendiri membaca pesan-pesan itu. Memang, kita pasangan pertama yang menikah di kelas. Usia kita saat itu masih 21. Kamu nekat melamarku setelah yakin dengan usaha yang kamu rintis. Dan aku entah kenapa mau-mau saja, padahal aku sedang menyelesaikan tugas akhir kuliahku. Pernikahan terasa sederhana bagiku yang saat itu dilanda resah setelah sekian lama memendam rasa untukmu. Gayung bersambut. Kamu melamarku secara tak terduga. Kedua orang tua kita pun memberi restu tanpa banyak syarat. Semua terasa mudah.

Kehidupan yang sempurna bukan?Menikah di usia muda dengan seseorang yang kuidamkan di masa remaja, menyelesaikan skripsi ditemani pendamping halal, dan menikmati Ramadhan berdua. Syahdu. Yaaa walaupun dalam hatiku terbersit rasa sombong karena merasa jauh lebih dulu dari teman-temanku yang lain. Tapi aku tak peduli. Hidupku bahagia. Dan terkadang aku pun menikmati sensasi membuat orang lain merasa iri dengan kehidupan yang kupunya.

“Makanya kalian buruan nyusul woii. Nggak bosen apa jomblo mulu. Wkwkwk.” Jawabku membalas pesan-pesan itu. Tentu saja dengan sombong yang tak kuanggap ada di hati.

Tak lama kemudian, aku ganti mengirim pesan untukmu.

“Sayang, cepat pulang ya, menu buka puasa hari ini sudah siap. Ada es teh segar, kalau nggak salah kesukaanmu kan?” Aku mengirim pesan disertai gambar makanan yang tersaji di meja. Sebenarnya aku menebak saja tentang minuman kesukaanmu.

“Iya, ini mau pulang. Apapun yang kamu bikin kesukaanku kok, Sayang. See you soon.” Jawabmu.

Aku tersenyum lega. Sebenarnya, aku lebih suka minum air putih saja, lalu makan cemilan sebentar ketika berbuka puasa. Setelahnya aku minum sinom, minuman herbal khas Surabaya yang terbuat dari irisan kunyit dan daun sinom. Rasanya sedikit asam, tapi segar, dan banyak bermanfaat untuk kesehatan. Pokoknya kesukaanku. Dulu Ibu sering membuatkan. Tapi karena ini di Medan dan jauh dari Ibu, belinya pun sulit, aku memilih diam saja dan mengikutimu minum es teh. Tadinya aku mau buat sih, tapi takut kamu tidak suka. Toh kamu tampak bahagia dengan menu kali ini. Apa salahnya kan berkorban? Bukankah katanya pernikahan itu pengorbanan?

Begitulah. Buka puasa pertama itu begitu membekas untukku. Aku jadi sering membuatkanmu es teh karena kurasa itu adalah minuman favoritmu. Hingga setahun kemudian, di Ramadhan berikutnya, aku tidak menyangka perkara minuman ini justru menjadi salah satu pemicu malapetaka dalam rumah tangga kita.

Continue reading “Buka Puasa Pertama Denganmu”