Presipitasi #6

“Kenapa?” dia mengatakannya sambil menunduk. Mungkin, biji bening berbentuk cairan itu sudah hampir jatuh.

Kamu juga menunduk, tidak berani melihat wajahnya. Ada perasaan bersalah yang menyayat kerongkonganmu saat kamu mengatakannya, tapi kamu lega.

Tiga menit suasana cafe lesehan bernuansa jawa kental itu seperti menjadi milik dua gelas es jeruk dan beberapa potongan kentang goreng yang tersisa. Begitu hening. Tidak ada suara yang keluar, baik dari mulutmu maupun mulutnya. Sayup-sayup terdengar lagu-lagu mendayu yang kamu juga tak tahu judulnya, membuat suasana menjadi antah berantah bagimu. Mungkin juga baginya.

Dia masih menunduk.

Menit ke empat, kamu akhirnya memulai pembicaraan itu lagi.

“Kamu tidak salah apa-apa.” katamu pelan, yang sebenarnya tidak menjawab pertanyaannya. Tapi itu jawaban paling halus dan paling jujur. Kamu sudah bingung mau mengatakan apa.

Perempuan cantik di depanmu itu mengangguk, “Sudahlah.” katanya pelan sekali, kamu bahkan hampir tidak mendengarnya.

“Aku antar pulang?” Ah, kamu sebenarnya hanya ingin menyudahi pertemuan kamu dan dia. Kamu tidak tega melihat wajah cantik itu menahan tangis.

Dia kemudian beranjak, mengambil tasnya, mengatakan “ayo” dengan sangat pelan. Kamu mengantarnya pulang. Dia benar-benar menangis, bijih bening itu berjatuhan. Kamu yang tidak mampu menatapnya berpeluh air mata memilih langsung pulang begitu dia sampai di depan rumahnya.

Sementara itu sebuah pesan singkat darimu membangunkan tidur siangku.

“Aku memilih menyelesaikannya.”

Kontan aku terkaget. Kamu memang sungguh sulit ditebak. Sampai sekarang pun begitu. Seminggu sebelum smsmu membangunkanku siang ini, kamu mengatakan di depanku bahwa kamu menyayangi gadis itu. Lalu kamu kecelakaan. Gadis itu bahkan menemanimu. Kamu tersenyum kan sewaktu aku dan teman-teman mengatakan “ciyee” untukmu dan untuknya? Gadis itu pipinya memerah. Aku ingat sekali semua ekspresi itu sampai sekarang. Kalian tampak bahagia. Tapi seperti kubilang, hipotesis itu tidak selalu benar. Hipotesis aku dan teman-teman nyatanya salah. Kamu tidak tahu saja, diam-diam, sebelum kita menjadi lebih dekat, aku adalah pengagum kamu dan dia, pasangan yang tepat pikirku.

Hipotesis itu mulai berubah, ketika kamu meneleponku di sebuah malam sepulang kamu dari rumah sakit. Tiga hari sebelum kamu memilih menyelesaikan ceritamu.

“Dokter membolehkanku pulang. Semuanya membaik.”

“Oh ya? Bagus dong. Tapi sebaiknya istirahat dulu.”

“Ah, mana bisa? Kalau dokter tidak membolehkan pulang pun, aku akan pulang sendiri.”

“Sebegitunyakah Razif? Terserah kamu deh. Itu tangan kiri bagaimana? Sudah bisa diajak ngebut lagi?” aku tertawa.

“Sudah dong. Ya, susah-susah dikit sih karena harus diperban. Tapi kalau buat mencet kalkulator masih sakit. Masih butuh kamu dan Tasya buat jadi asisten. Haha.”

“Parah. Tugas kelompokmu dengan Tasya bagaimana?”

“Yang jelas akan lebih baik dari tugas kelompokmu.”

“Waaah. Ngajak perang nih. Kita lihat aja nanti ya.”

“Iya lah, kan udah bisa ngebut lagi naik motor.”

“Iya, udah bisa malem mingguan lagi sama Bintan juga kan?” aku meledek, seperti biasa. Walaupun ada ngilu yang terasa saat mengatakannya, kupilih untuk menepisnya. Tidak akan terjadi apa-apa antara aku dan kamu. Bukankah kami satu kelas semuanya sudah sahabat dekat? Aku yakin, kamu pasti juga sering berkomunikasi dengan Tasya atau Aya atau Leisa atau Gandi sekalipun atau siapa saja. Seperti aku yang juga terbiasa mendengarkan cerita Gandi, Feri, Ristan, dan semuanya.

Tapi kamu diam saat aku menyebut nama gadis itu. Ada apa? Bukankah aku mengatakannya dengan nada bercanda seperti biasanya? Bukankah kamu biasanya tersenyum?

“Razif? Kamu nggak lagi senyum-senyum sendiri kan? Halo?”

“Ya?” hanya itu jawabanmu. Flat.

“Aku kan cuma bercanda.”

“Itu salah satu poin yang ingin kuceritakan.”

“Salah satu? Memangnya ada berapa poin yang ingin kamu ceritakan?”

“Ya kalau aku masih percaya sama kamu.”

“Baiklah, kudengarkan, tapi pakai pulsa kamu kan? Hihi.” Aku mencoba mencairkan suasana.

“Iya, Bawel.”

“Huft. Jadi?”

“Jadi aku terlalu sibuk selama ini. Hidupku kaku rasanya. Ngurusin OSIS, pelatihan, bimbingan, lomba, praktek, tugas-tugas, apalah lagi. Aku tidak punya waktu untuk aku sendiri.”

“Ada yang kurang. Kamu masih bisa bercanda sama temen-temen kok. Sama aku salah satunya kan? Haha.”

“Hm, iya sih. Tapi ada yang kurang.”

“Apa?”

“Hati.”

Aku menelan ludah, untuk sekadar menahan rasa ngilu yang tiba-tiba terasa lagi.

“Bukankah hatimu ada untuk Bintan? Jadi kurang apa?” kubiarkan suaraku terdengar santai.

“Bintan bahkan juga kehilanganku. Aku kasihan sama dia jadinya.”

“Ya sudah, berikan perhatian lebih dong kalau gitu. Sekarang tutup telepon ini, kamu telepon saja dia. Silahkan beri waktumu untuk dia. Selesai kan urusan?”

“Sayangnya ini nggak semudah itu, Kha. Kamu pernah pacaran nggak sih?”

“Hmm, nggak pernah, hehe.”

“Tapi pernah jatuh cinta?”

“Ya pernah lah, wajar kan?”

“Sama siapa?”

“Kok kamu jadi kepo?

“Pernah ditembak cowok nggak?”

“Pernah juga tapi aku tolak terus aku jauhin abis itu.”

Kamu malah tertawa kali ini, “Farikha.. Farikha.. Apa jangan-jangan aku salah curhat sama orang ya? Masa aku curhat sama orang yang nggak berpengalaman sih?”

“Ye, ya sudah kalau kamu nggak mau cerita lagi. Aku kan cuma pendengar yang baik. Emang psikolog yang nanganin orang gila harus gila dulu apa?”

“Sial, kamu ngatain aku gila.”

“Kamu sendiri yang berasumsi begitu.”

“Hahaha. Dan salahnya lagi aku juga cerita sama anak kecil sekarang ini. Si ceria dan heboh di kelas. Yang hobinya makan choki-choki dan sedikit belepotan.”

Terang saja aku geram, “Woy, itu siapa ya? Jadi cerita nggak ini? Ya sudah, kamu langsung telepon Bintan aja, percaya deh sama saranku yang satu ini.”

Kamu tertawa lagi. “Yaa, semoga semuanya membaik.”

“Iya, terima kasih sudah mau cerita sama anak kecil.”

“Anak kecilnya bisa jaga rahasia kan ya?”

“Biasanya sih disogok choki-choki dulu.”

“Hu, dasar. Jangan sampai ada yang tahu juga kalau aku cerita soal ini ke kamu ya?”

“Kenapa?”

“Baru kali ini aku cerita soal hati. Bisa kan?”

“Iya, asal disogok pakai choki-choki aja.” kataku santai.

“Ih jadi cewek materai banget sih?”

“Udah sana, cepet telepon  Bintan, kamu sudah ngasih kabar kan kalau kamu sudah pulang dari rumah sakit?”

“Iya, iya. Sudahlah, masa aku ngabarin kamu dulu baru dia? Hayo, jangan mulai geer ya.”

Aku diam sebentar. “Iyaaaa. Siapa juga yang geer. Huh.”

“Iya, cerita belum selesai sebenarnya, Kha. Doakan saja semua membaik.”

“Oke. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Tut. Telepon mati. Ceritamu belum selesai? Kamu tidak mengabari lagi sesudahnya. Melihat kamu dan dia berjalan esok harinya ketika pertama kali kamu sekolah pasca kecelakaan itu adalah jawaban bahwa kamu memberikan porsi perhatian lebih untuk gadis yang menangis karena merasa kehilanganmu itu. Tapi apa yang baru kamu katakan? Menyelesaikannya? Ada apa lagi denganmu?

Kamu membuat reaksi lalu mencipta presipitasi begitu saja?

Rumah,

28 Juli 2012

22.35 WLH

Klik Presipitasi kalau mau tahu yg #1 sampai #5

13 thoughts on “Presipitasi #6

  1. hehehe bagus him kau bisa membuat cerita sprti kebanyakan novel yang pernah ku baca. alurnya membuat penasaran orang . tak selamanya cerita harus happy ending. wah baru kuliahat blogmu yang sekian lama ndak kubaca . hehehe

    • Wah apakah ini nanti tidak akan berakhir happy ending? Who knows, aku jg blum tau.hehe..
      Makasih ya supriyo sudah mampir dan baca. Kritik dan sarannya ditunggu :)

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s