Lewat Seduhan Alfabet

 Kadang, kita harus menyadari, bahwa kita hanya diizinkan mengenal melalui alfabet.

Ingin sekali aku memanggilmu. Sok kenal bahasa kerennya. Biarlah. Tapi sorot mata orang-orang di ruangan ini membuat nyaliku kembali menciut. Bukankah ruangan ini sama sekali asing bagiku? Orang-orangnya pun asing. Lihatlah, langit-langitnya yang khas dengan warna hitam dan putih ini begitu menakjubkan. Semenakjubkan pidatomu dalam menyambut kehadiran kami, peserta “Blogging Camp” yang diadakan oleh kampusmu.

“Saya bahagia kalian ada di sini. Saya begitu antusias untuk mengetahui bahwa ada 500 blogger yang akan tinggal tiga hari di kampus ini untuk saling berbagi. Ah, pasti setelah ini, huruf-huruf akan bercengkerama lagi dalam teras-teras indah blog kalian. Dan berbagilah tentang kenikmatan menyeduhnya sehingga menjadi secangkir karya yang menghangatkan banyak orang.”

Kamu masih saja puitis, bahkan dalam berpidato sekalipun.

Gemuruh tepuk tangan terdengar riuh. Hatiku juga berdebar riuh. Ingin aku memanggilmu, ada yang ingin kusampaikan.

“Keren ya?” seorang perempuan di sebelahku tiba-tiba memulai pembicaraan.

Aku menoleh kepadanya, tersenyum.

“Tentu saja.” jawabku antusias.

“Kamu mengenalnya?” perempuan berbaju ungu muda itu memberikan pertanyaan yang membuatku tergagap.

“Mm.. Ya.” Ragu-ragu aku menjawabnya.

Aku mengenalmu, tapi mungkin kamu tak mengenalku. Ironis. Dan hari ini, aku ingin kamu juga mengenalku. Ada yang ingin kusampaikan.

“Bagaimana kamu mengenalnya?” perempuan di sebelahku ini semakin antusias.

“Dari seduhan alfabetnya yang penuh energi.”

“Dia punya blog?”

Aku mengangguk.

Setahun lalu tak sengaja kutemukan tulisannya di sebuah teras. Sebuah teras yang selalu ingin kukunjungi setiap harinya, yang menawarkanku secangkir seduhan alfabet penuh energi, yang membuatku ingin menulis dan terus menulis. Aku kemudian mengenalnya dari sana, mungkin dari sisi yang berbeda dari kesehariannya sebagai orang penting di kampusnya.

“Aku mau bertemu dengannya.” Perempuan di sebelahku ini semakin antusias. Aku baru tahu, namanya Seli, seorang blogger asal Bandung, sama denganku ternyata. Ya, kartu peserta yang menggantung di lehernya yang memberi tahuku informasi itu.

“Ah tak usah, mengenal dia di alam imajiner sudah cukup. Toh selama ini, rangkaian alfabetnya sudah cukup membuatku lebih dari sekadar mengenalnya.” Bohong. Bukannya dari tadi aku ingin meneriakimu, memanggilmu, lalu menyampaikan sesuatu?

Dia tak menggubris jawabanku. Perempuan ini nyatanya benar-benar tertarik padamu hanya melalui beberapa baris kata yang kamu pidatokan. Dia berdiri tepat ketika kamu menutup pidatomu, lalu berjalan ke arahmu.

“Ada yang lebih indah dari mengenang, mencipta cerita untuk dikenang lagi.” Sebuah penutup yang membuatku, mungkin juga seisi gedung ini takjub. Kamu menyampaikannya seindah menuliskannya.

Kamu turun dari panggungmu, aku masih-hanya–melihat. Tidak, mungkin aku tidak sedang jatuh cinta, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu. Tapi aku tak sepandai kamu dalam berbicara. Mungkin, aku harus kembali menyeduh alfabet untuk membuat secangkir karya lagi. Tentang hari ini. Tentang alfabetmu yang membuatku sekarang berada di sini. Tentang alfabetmu yang membuatku menulis banyak cerita.

Seli sudah berada di samping panggung, berbicara denganmu. Kamu tersenyum, menikmati pembicaraan itu. Ingin aku meneriakimu. Tapi tidak pernah bisa. Kadang, kita harus menyadari, bahwa kita hanya diizinkan mengenal melalui alfabet. Aku akan berkunjung ke terasmu, seperti biasa, menikmati secangkir karya yang kamu seduh. Melihat senyummu dari sana. Walaupun sebenarnya, alasan utamaku ke sini adalah untuk bertemu denganmu.

Nyatanya, aku terlalu kelu untuk sekadar memanggilmu.

Terima kasih, secangkir alfabet yang kau seduh, membuatku menjuarai kompetisi menulis ini itu. Secangkir alfabetmu tak hanya menghangatkan, tapi juga, menginspirasi. Kapan kamu kembali menyeduh alfabetmu?

Kalimat yang ingin kusampaikan itu, kusimpan dalam draft hati. Kamu asyik berbicara dengan Seli di depan sana.

*bahwa rangkaian huruf, jika ditulis dengan sepenuh energi, nyatanya mampu menginspirasi banyak orang, bahkan bisa membuat orang yang terinspirasi itu menulis lagi dan menginspirasi lagi banyak orang.

Tangga,

23 Juli 2012

21.51

Hanya sebuah cerita fiksi, dalam rangkaian undefined dan absurditas tarian alfabet di kepala dan hati, terbalik, di hati dan kepala. :D

 

 

 

About these ads

4 thoughts on “Lewat Seduhan Alfabet

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s