esde,apa kabar?

Untuk pertama kalinya, setelah delapan tahun ia pergi dari bangunan tempatnya belajar menulis pertama kali, gadis itu merindukan tempat itu. Tempat yang mengenalkannya pada m-e-n-u-l-i-s, mulai dari mengeja huruf hingga kini ia berimajinasi dalam rangkaian huruf-huruf.

ilustrasi. sumber: http://4.bp.blogspot.com

Esde. Atau kepanjangannya Sekolah Dasar. Tempat itulah yang ingin cepat-cepat ditinggalkan oleh gadis itu ketika ia kelas enam. Ah, tak seorang pun tahu, gadis itu menyimpan trauma masa kecilnya di esde itu. Masa-masa esde baginya adalah masa yang harus segera dilupakan. Masa yang membuatnya ingin cepat pergi memulai lembar yang berbeda di tempat lain. Ya, gadis itu, benar-benar melupakannya. Melupakan esdenya. Ah, walau tak dipungkiri, kadang terselip pula rindu pada guru-gurunya. Terselip pula rindu pada prestasi gemilangnya. Terselip pula rindu pada ketegasan sikapnya. Terselip pula rindu ingin melihat bagaimana teman-temannya sekarang. Tapi, rasa trauma dan ingin cepat-cepat pergi dari esde, membuatnya lupa pada sekolahnya itu. Bodoh! Terlalu sombong jika gadis itu sungguh melupakannya.

Ia jauh meninggalkan teman-temannya di desa yang rata-rata memilih untuk bersekolah di madrasah. Ia bersekolah di sebuah SMP favorit di Kabupaten. Ah, kamu pasti bertanya mengapa gadis itu trauma? Mari kuceritakan sekilas tentang gadis itu.

Umurnya 5,5 tahun ketika mendaftar di sekolah itu. Bukan, itu bukan desa asalnya. Sekecil itu, ia tinggal bersama neneknya. Bukan pula karena ibu bapaknya membuangnya. Tapi, itu pilihan gadis kecil itu. Ia ingin menemani neneknya, katanya. Ah, jangan lantas berpikir bahwa kemudian dia menjadi gadis yang mandiri, Kawan. Di awal berpisah dengan orang tuanya, ia selalu menangis setiap hari, ingin pulang. Ingin menelepon ibunya. Ah, mana pula, neneknya tidak punya telepon rumah. Maka, si gadis kecil itu pasti pergi ke wartel untuk menelepon ibunya. Kadang-kadang digoda penjaga wartel karena keluar dari bilik telepon sambil menangis. Ya memang begitu, ia menangis, sampai hari Sabtu tiba. Hari bapaknya menjemputnya untuk pulang. Dan akan kembali menangis kalau Minggu sore tiba, karena ia harus kembali ke rumah nenek. Tapi, semua itu membuatnya belajar arti ‘mandiri’ lebih dulu dari teman-temannya.

Walaupun masih sering menangis, ia bahagia kok tinggal di rumah neneknya. Bertiga saja. Nenek, si gadis, dan tantenya yang saat itu sudah SMA. Kamu tahu, Kawan? Di awal kelas satu, ia juga masih ngompol. Haha. Beruntung, neneknya ini sangat sabar. Mengajarinya mengaji setiap usai magrib, memberi dongeng sebelum tidur, juga mendidis rambutnya walaupun sebenarnya tak ada kutunya.

Ah, gadis kecil ini, gadis yang sangat ambisius, sedikit galak, sangat tegas, patuh pada peraturan, dan memiliki obsesi yang sangat besar untuk mendapatkan ranking 1 di kelas. Di bawah kontrol tantenya yang keras dan rajin menungguinya belajar setiap malam, gadis itu benar-benar memperoleh ranking I. Dia bahagia bukan main, apalagi ketika ibunya membelikannya sebuah jam tangan ketika itu. Ah, dia rindu Ibu Ani, Ibu guru super sabar yang membimbingnya di kelas 1.

Sudah kubilang, dia gadis yang tegas. Maka dia pasti akan langsung mengingatkan temannya yang tidak mematuhi peraturan, yang berbicara saat pelajaran di kelas misalnya. Mungkin, karena itulah banyak yang tidak suka dengannya kemudian. Ia juga pelit kalau soal ulangan, ia tidak pernah mau memberi contekan untuk temannya (Bukannya semua anak kecil begitu ya? Hehe). Ia masih menjadi juara kelas sampai kelas 2. Sayang, saat kelas 3, ia mengalami sakit parah hingga hampir sebulan ia tidak bisa sekolah. Rankingnya pun turun drastis, empat. Jangan tanya, ia menangis ketika itu, tapi dari situlah ia mulai belajar tentang sebuah penerimaan. Toh, ia pun masih bisa mengejar ketinggalan di kelas-kelas selanjutnya. Ah iya, sejak kelas 3 SD, dia benar-benar mandiri, tantenya yang biasanya membimbingnya belajar sudah kuliah di luar kota.

Jangan dulu berpikir lebih tentang gadis ini. Di balik semua sifatnya itu, dia sesungguhnya juga gadis kecil yang polos. Yang suka bermain dengan teman-temannya, yang menyukai makna persahabatan, yang masih berbuat seenaknya walaupun ia sosok yang taat peraturan, yang tentu saja masih banyak berbuat salah, yang tak mengerti pada dinamika hidup.

Teman-temannya tiba-tiba memusuhinya. Menjauhinya. Katanya, itu semua karena dia anak emas wali kelas. Ada juga yang bilang karena dia sombong. Mungkin, sifat ambisiusnya itu yang membuatnya tampak sebagai orang yang sombong. Ah, kawan, lucu aku mendengar cerita ini. Bukankah itu hanya cerita klasik yang pasti dialami anak esde? :D Tapi, baginya itu membekas. Di sanalah pertama kalinya ia mengenal kata pengkhianatan. Ketika teman-temannya yang biasanya menemaninya, tiba-tiba memusuhinya. Saat itu, gadis itu tak mengerti apa-apa. Yang ia ingat dari ceritanya, ia hanya benci diperlakukan seperti itu oleh teman-temannya. Terlebih ketika gurunya memilihnya untuk mewakili sekolah dalam berbagai ajang perlombaan, termasuk ajang paling bergengsi untuk anak SD, siswa teladan.

Teman-temannya semakin banyak yang membicarakannya di belakang. Dikata inilah, itulah. Ia sungguh tak suka diperlakukan seperti itu. Sungguh tak suka. Sampai saat kelas enam tiba, ia tumbuh menjadi gadis mungil yang cantik. Tidak tinggi, tubuhnya mungil malah. Banyak teman-teman laki-lakinya menggodanya. Tapi ia selalu marah. Ia belum mengerti apa-apa soal cinta. Hahaha. Aku tertawa sendiri mendengar cerita ini dari gadis itu. Permasalahan cinta monyet anak SD mulai terjadi. Gadis itu tidak tahu apa yang terjadi, tapi gara-gara cinta monyet yang gadis itu juga sudah lupa bagaimana ceritanya, ia semakin tidak disukai teman-temannya. Dan gadis itu tidak suka dengan itu. Gadis itu ingin pergi! Cepat pergi dari esde itu dan memulai dirinya menjadi gadis remaja yang baru. Seorang remaja yang tidak menjadi dia ketika esde. Kalau istilah kerennya, rebranding. Haha. Cukup baginya dikhianati teman, kalaupun benar ia gadis kecil yang sombong, maka ia ingin berubah.

Benar. Di SMP, ia berbeda dengan dirinya ketika SD. Ah, ia kan sudah remaja ketika itu. Soal ambisius? Masih. Tapi, ia tak sekeras ia saat esde. Ia mulai melunak, mulai belajar arti persahabatan. Mulai belajar bergaul, mulai mengenal pula cinta monyet. Mulai menikmati hidupnya. Ia sering dilibas rindu pada guru-guru esdenya, apalagi guru bahasa Indonesianya, yang menciumnya di kelas karena suka pada tulisan si gadis saat ia kelas 5 SD. Saat itulah, ia berjanji untuk tekun menulis. Membuat dia aktif di majalah dan buletin sekolah dari SMP, SMA, hingga sekarang ketika ia sudah menjadi mahasiswa. Ia rindu guru IPS-nya. Tahukah beliau? Gadis kecilnya pernah menjuarai lomba rumpun IPS ketika SMP. Ia rindu guru matematikanya, walaupun sampai sekarang gadis itu tidak pernah pandai mengkombinasikan angka-angka. Tapi traumanya itu membuatnya tidak pernah siap untuk bertemu teman-teman esdenya.

Apa kabar esde? Ah, bukannya trauma masa kecil itu hanya tingkah konyol anak esde yang tidak seharusnya diingat? Ah, tentu saja, dia sebenarnya juga sudah melupakan urusan trauma itu. Tapi masalahnya, mengapa ia tidak pernah bersilaturahim ke esdenya? Harusnya, gadis itu meluangkannya untuk mampir di sana, sebentar saja. Hanya untuk memberi kabar pada guru-gurunya, bahwa anak didiknya sekarang sedang berjuang untuk menjadi lebih baik. Hanya ingin memohon doa restu bahwa anak didiknya itu sekarang memiliki banyak aktivitas. Hanya ingin menyambungkan rindu yang delapan tahun diatepis.

Ah, Kawan. Gadis itu rindu dimarahin teman-temannya karena membuat kelompoknya kalah ketika bermain kasti. Gadis itu kan tidak bisa lari. Gadis itu kangen. Gadis itu tahu kok, teman-temannya pasti sudah berubah. Urusan musuh-musuhan itu kan juga sifat polos anak esde. :D Apa kabar? Dia mendengar kawan-kawannya sudah banyak yang menikah. Ah, gadis itu rindu. Apa kabar esde? Sudah seperti apa sekarang kawan-kawan gadis itu? Dia sungguh rindu.

Iya, jangankan untuk mampir ke SD, mampir ke rumah neneknya saja sesekali saat libur tiba. Ia lebih banyak menghabiskan liburnya di rumah. Sejak SMP, gadis ini sudah tinggal di kos. Ah, tapi harusnya ia meluangkannya. :(

Dan siapa sangka, gadis yang dulu sangat tegas, taat peraturan, tidak peduli apa kata orang ini, sekarang gampang menangis, tidak setegas dulu. Dan ia sungguh rindu pada ketegasannya itu.

Apakabaresde?semogatercetakgenerasirabbanidarisana. :)

siapadia? :D

Pojok Biru 2,

20 Juli 2012

Siang~

 

 

 

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s