Biarkan Angin Berhembus Sebagaimana Mestinya

Malam sudah melarut. Tapi hati yang gelisah tetap terjaga walau mata terpejam. Ada yang dipikirkannya. Ada yang membuatnya gelisah. Ada 5 huruf. C-I-N-T-A.

Ah, soal ini harusnya memang sudah basi ya untuk dibahas? Aku juga sedikit malas untuk menuliskannya. Tapi, melalui deretan huruf ini, hati boleh berharap sedikit kegelisahan itu sirna. Yaa, ini tentang cinta. Sesuatu yang klise, absurd, bahkan ada yang menafikkannya mengatakan bahwa itu tak penting, basi, gombal, apa pun lah itu. Ya karena sejatinya memang masih banyak hal yang bisa dipikirkan selain urusan cinta kan? Yaaa, aku tahu pasti, karena urusan itu pun sering kali aku ‘sirna’kan terlebih dahulu. Mungkin kalian juga. Tapi selalu, aku tidak bisa berlari dari satu waktu yang aku yakin, siapapun engkau pasti pernah mengalaminya. Satu waktu di mana kita memikirkan hal bernama ‘cinta’.

Seperti saat ini.

Aku bahkan sudah hampir terpejam, namun akhirnya terjaga kembali ketika hati memilih untuk diam, merenungkan sebuah masa depan cinta. Tidak pasti? Ya, pasti tidak pasti. Karena jawaban masih digulung sang waktu. Tapi apakah sang waktu akan menjawab kalau kita tidak mencari tahu jawabannya? That’s the point. Itulah yang kupikirkan.

“Tapi itu tidak cukup dengan doa, Himsa. Cinta itu ya harus diperjuangkan.” Ah, suara sahabatku tadi siang itu benar-benar menggangguku.

“Tapi aku percaya sama kekuatan doa itu. Aku masih menunggu dipertemukan saja.”

“Bertemu, jangan nunggu dipertemukan terus, ga ada usahanya.”

lalalallallalalalaaa. Sudah. Aku berusaha kok. Aku berusaha dengan caraku. Aku berusaha dengan memantaskan diriku semampuku untuknya. Aku berusaha dengan caraku. Membiarkan angin berhembus sebagaimana harusnya. Aku percaya akan ada waktu dia datang. Aku percaya. Dan aku menyandarkan kepercayaanku ini pada-Nya. Dia pasti akan menyutradarainya dengan sangat indah.

Aku percaya. Walaupun aku harus siap dengan segala kemungkinan di depan atas pilihan ‘percaya’ ini. Sungguh, aku percaya sekali. Walaupun sampai detik ini, hatiku sama sekali belum siap dengan kemungkinan buruk itu. Tapi aku percaya, ketika kita memancarkan sesuatu yang baik, begitupun sebaliknya. Aku percaya walau terkadang keraguanku itu muncul. Walau terkadang rasa takut itu kembali menyelimuti. Tapi kepercayaanku itu membuatku diam saja. Tersenyum saja atau kadang menangis. Sesak.

Terima kasih nasihatmu, Kawan. Sungguh itu benar sekali, bahwa doa itu harus disertai dengan usaha. Sungguh engkau mengerti sekali kegelisahan hati sahabatmu ini. Tapi, hati kecilku kembali mengatakan bahwa aku harus percaya. Walau aku takut. Walau gelisah. Biarkan saja. Sudah cukup sampai titik ini saja usahaku. Kalau cinta itu memang ada, biarkan ia datang dengan sendirinya, seindah angin berhembus sebagaimana mestinya.

Allah, Tuhanku, maka hanya kepada-Mu lah hamba beristighfar. Ampuni semua perasaan dan ketidakberdayaan ini. Sungguh cinta-Mu pasti tiada meragukan. Maka sekali lagi, izinkan aku menggantung urusan ini pada-Mu, hingga semua menjadi jelas suatu saat nanti. Dan hanya Engkaulah yang bisa menjaga hati ini untuk tetap sabar. :)

Pojok Biru 2

8 November 2012

00.25

About these ads

2 thoughts on “Biarkan Angin Berhembus Sebagaimana Mestinya

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s