Merayakan Kegagalan

Mungkin, cara paling asyik untuk menikmati kegagalan adalah dengan merayakannya.

-Azaleav

Ada orang yang mendapatkan keinginannya dengan sangat mudah. Mulai dari masuk sekolah hingga perguruan tinggi favorit, diterima bekerja di mana saja, bahkan hingga urusan jodoh pun berjalan mulus dengan sangat mudah dan lancar. Ada pula mereka yang harus gagal berkali-kali, jatuh dulu, berdarah-darah dulu hanya untuk sekadar memperoleh impian sederhana mereka–mendapat perguruan tinggi negeri misalnya. Ada pula yang hidupnya biasa saja. Pernah gagal, pernah juga berhasil. Ada yang biasa saja, tak pernah gagal (atau tak pernah punya target yang ingin dicapai?). Atau apalagi? Begitulah dinamika hidup.
Anehnya kita (saya) seringkali larut dalam kondisi saling iri.
Continue reading

Piala Dunia

image

Hasna pulang. Ia kembali meninggalkan Jogjakarta, meninggalkan separuh hatinya yang empat tahun masih bertanya. Aku tahu persis rasanya menjadi dia. Aku tahu rasanya tak dipercaya ketika mengatakan “sudah move on” karena memang raut mukaku pun bercerita bahwa aku sedang berbohong. Sebagaimana wajahnya ketika ia mengatakan bahwa ia sudah melupakan Hafiz, cinta pertamanya yang menumbuh dalam diam. Ya, karena aku pun merasakannya.
“Sebentar lagi, piala dunia ya?” Katanya sebelum pamit.
“Ha? Kenapa?” Aku, yang tak pernah mengikuti perkembangan dunia sepak bola, sama sekali tidak mengerti maksud Hasna memulai pembicaraan tentang bola padaku.

Continue reading

Dear, Kamu

image

Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bola mata yang hanya dengan menatapku lekat seperti mampu menghapus semua sakit. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bahu bidang yang hanya kusandari seperti mampu membuatku memiliki dunia. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk pesan yang walaupun singkat tanpa rima seperti mampu membuat hati ini terus kuat. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sesosok senyum sederhana tapi mampu membuatku mengingat penciptanya. Sayangnya, aku bahkan tak tahu siapa kamu.
Continue reading

Jogjakarta

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna

-Kla Project

Aku selalu suka kota ini. Selalu suka kesantunan masyarakatnya. Selalu suka ciri khas budayanya. Dan.. selalu suka saat-saat takdir mempertemukan kita dalam ketidaksengajaan di kampusmu. Namun rupanya sore ini takdir tidak ditulis Tuhan untuk membuatku menatapmu diam-diam di balik pohon saat kamu lewat. Atau ketika tidak sengaja kulihat kamu sedang duduk di kantin sambil membaca buku. Ya, pertemuan singkat tanpa sapa tapi selalu kuingat. Kamu tak pernah tahu. Tapi hari ini, hari ketika aku sekadar ingin mengatakan “selamat” atas gelar sarjana kedokteran yang kauraih, takdir bercerita lain. Sudah pukul 17.00. Dan kamu tak kulihat berlalu. Sementara wisudawan yang lain sudah pulang. Kampus ini sudah sepi dari hiruk pikuk perayaan kelulusan. Dan aku masih di sini, menanti punggungmu untuk sekadar kutatap. Continue reading

Membatasi Rezeki

Tak peduli seberapa blur dan absurd hidup yang kau jalani, kau selalu punya kesempatan untuk memetik hikmahnya

Tak peduli seberapa blur dan absurd hidup yang kau jalani, kau selalu punya kesempatan untuk memetik hikmahnya

Rezeki Allah itu luaaas sekali. Tapi pernah nggak menyadari bahwa sering kali kita yang membatasi rezeki kita sendiri? Membatasi seperti apa? Baiklah. Saya akan bercerita tentang perenungan saya di busway–as usual saat diem di busway seperti ini, adalah saat yang sangat bisa kita manfaatkan untuk mengenal Allah lebih dekat melalui kontemplasi. Yap. Sampai akhirnya saya menuliskan judul di atas.

Tulisan ini akan saya mulai dari cerita seorang gadis. Sebut saja namanya Harmoni (terinspirasi dari halte paling hectic se-Jakarta). Harmoni ini ingin sedekah. Ia juga ingin sekali memberikan uang untuk kedua orang tuanya. Tapi oh tapi bukan iman namanya jika tidak diuji. Bagian dari dirinya yang lain mengeluh.

“Saya ingin sedekah Ya Allah. Tapi kan gaji saya bulan ini pas-pasan. Nanti buat hidup sampai akhir bulan gimana? Ah lagian kan orang tua masih bisa mencari nafkah. Saya kan di sini kerja keras sampai capek. Nanti dulu sedekahnya lah kalau gaji saya udah lebih banyak dari ini.” Continue reading

Jakarta! (2)

Sungguh tidak terasa, hari ini sudah satu bulan lewat satu hari saya tinggal di kota ini. Sudah resmi dua hari pula saya pindah. Iya, saya memilih untuk pindah dari tempat tinggal saya sebelumnya yang bisa dibilang sudah super nyaman. AC, kamar mandi air panas, baju dicuciin, disetrikain, kalau mau nyuci ada mesin cuci, dekat juga dari kantor, dekat mall, pasar, dan berbagai fasilitas umum lainnya. Tapi entahlah. Hati saya tidak nyaman. Selain tentu saja karena harganya yang mahal (hahaha), saya merasakan sekali kenyamanan itu melenakan. Saya susah menulis. Dan inilah saya sekarang. Memilih pindah. Menikmati busway dari pagi dan berjumpa lagi malam hari. Saya tidak tahu entah akan bertahan berapa lama. Tapi berangkat pagi dan berdiri di bus menurut saya jauh lebih bermanfaat daripada menerima panggilan bantal untuk memeluknya lagi karena jam masuk kantor masih lama (baca: tidur lagi). Dan lagi, saya menikmati membaca dan menulis di atas bus. Like I do now. Baiklah, saya kumat ya? Mukadimahnya kepanjangan. Hehehe. But one thing you can get from this opening is: betapa kesusahan seringkali lebih menimbulkan hasrat untuk berkarya lebih dan lebih. Dan kenyamanan adalah pisau, yang kalau kita tak memanfaatkannya dengan baik, ia akan tumpul atau pun jika tajam, ia tak segan membunuhmu.

Baiklah, berbicara soal kenyamanan, saya jadi ingin kembali fokus pada cerita hikmah yang ingin saya share malam ini. Lagi, tentang mimpi. Hari ini, dengan segala suka duka menjadi seorang pekerja kantoran, saya menyempatkan diri merenung. Apa benar bahwa ini adalah jalan menuju impian saya? Saya terdiam lama. Sebulan. Akhirnya saya menyadari bahwa memang bekerja sungguh bukanlah zona nyaman saya. Continue reading

Lembayung Bali

image

Tidak ada yang meragukan keceriaanmu. Bahkan aku yakin tak ada yang mampu menemukan fotomu tanpa gigimu berjajar rapi. Ciri khas senyummu. Rambutmu yang pendek gaya “dora” atau yang kadang-kadang dikuncir dua adalah ciri khas kepolosanmu. Aku sering membenak dalam hati apa yang kaukuncir dari rambut yang sangat pendek itu? Belum lagi buku-buku tebalmu, mengapa kaubawa setiap hari di sekolah? Aku kadang mengasihani tubuh kurusmu yang harus memikul beban buku-buku itu. Tapi itulah kamu. Bukan culun. Kamu hanya sedikit ‘berbeda’ dari yang lain.
Entahlah. Aku baru menyadari bahwa aku masih bisa mendeskripsikanmu dengan jelas setelah empat tahun waktu seakan menelan cerita. Ah, bukan menelan. Rasanya masih tersedak di tenggorokan. Apa kabarmu? Apakah kamu juga tersedak? Continue reading