Kepada Pagi

image

Aku pernah duduk sengaja menikmati bulan, seakan menghambat pagi yang sudah ditandai fajar. Aku pernah duduk berlama bernegosiasi pada matahari agar terlambat terbit. Demi romansa malam. Aku pernah duduk menangisi malam yang berlalu. Tapi tolonglah, setelah aku mengenal pagi, aku selalu menunggunya lagi. Menunggu burung-burung berkicau, embun-embun mengenyahkan dahaga, adzan subuh yang menenteramkan, hingga segelas teh hangat yang mencairkan cinta.
Maka kepadamu pagi yang harus kutunggu lagi, aku tetap di sini. Menantimu dengan senyum berbalut air mata rindu. Menunggumu dengan semangat mengapi untuk menyalakan kobar kehidupan yang penuh makna. Semoga.
Maka kepadamu pagi, kutitipkan rindu yang menggantung di langit-langit malam. Kuucapkan doa yang mengerjap di antara kerlip bintang. Kunadakan cinta di antara senyap yang menyiksaku. Kepadamu pagi. Dengan mataharimu. Dengan cintamu yang tak hanya membuatku berani berjalan menatap siang, tapi juga senyuman menikmati malam yang senyap.
Maka kepadamu pagi, kubiarkan rindu menjadi jalan untuk ridlo-Nya.

Continue reading

41014: Story About My Marriage

Keakraban dua jiwa yang ditakdirkan bersama terkadang terjalin begitu saja. Tanpa perlu waktu yang lama. Tanpa perlu debar kasmaran. Hanya ada yakin yang begitu saja menghampiri. Karena jiwa-jiwa yang disatukan oleh langit telah saling tarik menarik satu sama lain. Ketertarikan yang terkadang tak perlu penjelasan akal. Rasa tenang sebagaimana janji-Nya dalam Ar-Ruum:21 akan terasa begitu saja ada, jika cinta yang dilabuhkan di pernikahan berlandaskan cinta hakiki, karena Allah.

photo by: Whelix Photography

photo by: Whelix Photography

Bismillah, akhirnya ngeblog lagi, setelah entah sekian lama pojok biru ini jadi kusam karena penghuninya sok sibuk dengan berbagai ini itu. Ah, kebanyakan ngeles ya? Hehe. Ya sudah, berhubung suami sedang menjalankan tugas negara di ujung Indonesia dan saya nggak bisa tidur, lebih baik saya menulis. Ya, menulis untuk mengenang sebuah kisah penting dalam hidup saya. Sekaligus menunaikan janji menjawab pertanyaan ‘gimana ceritanya bisa nikah?’ dari teman-teman dan pembaca buku di berbagai chat, yang saat itu saya janjikan, ‘nanti ya tunggu di blog’. Hihi. Dan tak terasa, hari ini sudah sebulan sejak peristiwa peradaban itu terjadi di hidup saya. Siap-siap ya, agak panjang nih sekalian curhat :p. Yang pasti, semoga ada banyak hikmah yang bisa diambil. (Khususnya buat yang lagi galau soal jodoh).

Hmm, mengenang cerita ini mau tidak mau membuat ingatan saya berlari pada Oktober 2014. Bulan yang menjadi saksi bahwa impian dan doa itu benar-benar dicatat dan dikabulkan Allah dengan cara-Nya. Jadi, saya dulu punya mimpi yang saya beri judul ‘Mimpi Oktober 2014′. Sesungguhnya, itu hanya mimpi konyol saja. Mimpi bahwa saya ingin menikah atau bertemu jodoh saya di bulan Oktober 2014. Kenapa Oktober? Ini agak konyol juga sih, saya kan orangnya absurd. Saya ingin Oktober menjadi bulan spesial, bulan perantara yang menjembatani saya dan pasangan saya. Saya kan lahir November, nah saya punya mimpi konyol lagi, yaitu punya suami yang lahirnya bulan September. Jadi, nanti kita dipertemukan oleh Oktober. So sweet kan? (Padahal alay ya? Hahaha). Walaupun konyol, mimpi itu saya seriusin. Saya ingat, tidak ada doa yang tak didengar. Oktober 2013 saya punya mimpi ingin ke luar negeri, ternyata benar Allah mengizinkan saya ke Turki. Jadi, saya pikir, tak ada salahnya berani bermimpi (lagi). Continue reading

Kepada Bulan

Kepada bulan yang pernah menertawai air mata, kusampaikan maaf karena aku beranjak. Bukan karena tak setia, tapi karena matahari sudah bersinar. Apakah aku harus menunggu malam lagi seperti kemarin-kemarin? Menolak lagi hadirnya pagi. Meski kamu tak pernah datang juga.

Kepada bulan yang juga pernah ikut menangis, kusampaikan rindu yang masih mengendap. Mengerjap. Bersembunyi di balik sinar mentari. Pagi telah datang. Tapi tak bolehkah aku merindui malam? Seperti kemarin. Seperti ribuan malam sebelum ini. Saat aku terduduk menatap bulan. Meskipun kamu tak pernah ada.

Pagi telah datang. Aku telah beranjak. Dan bulan baru saja mengabariku, kamu akhirnya datang. Dan aku, baru saja beranjak meninggalkan malam.

Continue reading

Mengenalmu

imageKamu dan aku adalah dua manusia asing yang lalu dipertemukan dengan keyakinan yang menghujam. Bahwa kamulah yang ridlonya kelak akan mengantarku ke surga. Bahwa akulah awak kapal yang akan kaunahkodai dalam samudera hidupmu. Begitu saja.

Kamu dan aku adalah dua manusia asing yang dipertemukan dengan keyakinan yang entah begitu saja. Cinta? Entah pula. Bagaimanalah. Jika cinta adalah mengenal, maka sekali lagi, kita adalah dua manusia asing.

Continue reading

Sakura Gugur di Musim Semi

sakura

Kalaulah muara cinta bukan Sang Maha Pemilik Cinta, kegilaan macam apa yang akan dialami oleh para pencinta? Mati seperti Qais dan Laila? Menegak racun seperti Romeo dan Juliet?

Kalaulah muara cinta adalah manusia, seperti apalagi bentuk hati yang koyak oleh prasangka? Bahkan jawaban-jawaban atas segala sangka pun tak cukup untuk menyulam luka. Kita mau menata hati itu kembali, tapi manusia bahkan tak punya daya untuk merapikan hatinya sendiri kan? Selalu ada Tangan Dia yang menata puzzle hatimu yang sudah terkoyak. Entah dengan cara apa. Hingga sebentuk kejujuran tak mampu lagi mengembalikan hati yang lukanya sembuh sekalipun. Kita tak punya daya apa-apa lagi. Tangan Dia sudah bekerja. Sedang tugas kita hanya menerima. Continue reading

Seribu Wajah Ayah: Seribu Kontemplasi

swaSebagai pembaca blog azharologia.com dari ketika postingannya masih belasan sampai sekarang sudah menjelma menjadi tiga buku, rasa-rasanya belum seru kalau saya belum membuat review buku Azhar Nurun Ala di blog ini. Hehehe. Dan Seribu Wajah Ayah, entah kenapa spontan mendorong saya untuk menulis ini. Buku yang sangat layak dibaca siapapun, kapanpun, berkali-kali.

“Selalu ada hal yang lebih bijak dari mengenang: membuat cerita baru yang lebih indah.”

Begitu kata Azhar menutup SWA. Dari semua tulisan Azhar, rasa-rasanya kutipan di ataslah yang paling saya sukai. Kalimat itu (kalau saya tidak salah ingat) juga ada di semua buku Azhar. Kalimat sederhana tapi bermakna dalam. Bagi saya, penutup ini berhasil membuat kita berhenti merutuki masa lalu atau terlena menikmati kenangan. Karena bagaimanapun, kenangan adalah ruang terjauh yang tak dapat kita jangkau, sedang masa depan selalu ada di depan mata kita setiap detiknya, siap kita sambut dengan cerita baru.

Selain penutupnya yang menarik, sebenarnya, sepanjang halaman buku ini pun sudah menawarkan seribu kontemplasi bagi pembacanya. Jujur saja, saya sempat salah terka, saya kira buku ini akan becerita tentang perjuangan dramatis seorang ayah dalam membesarkan anaknya. Ternyata, Azhar membungkusnya dengan kemasan berbeda. Kisah dramatis itu diramu sedemikian rupa menjadi sederhana ke dalam sebelas foto kenangan yang berisi beragam cerita kehidupan penuh makna.  Walaupun sosok ayah di novel ini digambarkan telah tiada, saya rasa Azhar berhasil membuat si tokoh ayah selalu hidup—melalui nasihat-nasihatnya. Sosok Ayah menjelma ke dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari penerimaan takdir, cinta, waktu, cita-cita, pendidikan anak bahkan tauhid.

Kalau boleh sedikit membandingkan, membaca novel ini mengingatkan saya pada ‘Sabtu Bersama Bapak’-nya Adhitya Mulya. Hanya saja, Adhitya membuat sang ayah selalu hidup melalui nasihat yang direkam menjadi video-video. Sementara Azhar, menghidupkan tokoh ayah melalui foto-foto yang bertransformasi menjadi rentetan renungan. Walaupun berbeda gaya penyampaian, kedua novel ini sama-sama menawarkan beragam nasihat kehidupan. Continue reading

Pre Order EPHEMERA dibuka!

poster po

Ephemera berisi 17 kumpulan cerita mimpi dan khayalan tentang cinta. Mulai dari jatuh cinta, PHP, patah hati, impian, sampai cerita cinta dalam pernikahan, termasuk cerita tentang ibu. Melalui cerita-cerita itu, penulis mencoba menyelipkan makna tentang penerimaan, pengharapan kepada Allah saja, dan pemikiran-pemikiran penulis hasil merenung dari berbagai peristiwa, kajian, seminar, ataupun buku-buku yang dibaca. Kumpulan cerita tersebut membentuk suatu benang merah: bahwa jatuh cinta dan patah hati hanya sementara. Ephemera. Mengapa sementara? Bacalah buku ini sampai selesai dan jawaban itu akan ditemukan :) Continue reading