Jakarta!

Saya tiba-tiba tidak tahu mau menulis apa. Padahal, tadi pas lagi nyuci banyak sekali ide yang mau saya tulis. Kalau sudah begini, saya tetap aja nulis asal, nanti juga ingat. Ah iya. Tentang Jakarta. Tentang mimpi. Tentang rindu. Tentang apa yang belum juga terlaksana. Tentang kejutan. Yap. Ini semua tentang rencana-Nya. Rencana-Nya yang seringkali tak sesuai apa yang kita terka. Tapi saya masih selalu percaya, apapun itu, rencana-Nya adalah yang terindah.

Suatu senja di Ancol. 9 April 2014.

Suatu senja di Ancol. 9 April 2014.

Jakarta, kota ini pun rencana-Nya untuk saya. Sejujurnya, saya hampir tidak pernah berencana untuk hidup di kota sebesar Jakarta—walaupun tidak juga terpikir untuk kembali ke kampung halaman. Bandung rasanya terlalu nyaman untuk saya. Barulah di akhir masa kuliah, Jakarta tetiba menjadi opsi.

“Kamu harus mencoba hidup dan tinggal di kota ini. kamu harus tahu bagaimana orang-orang di sini berjuang untuk bertahan hidup. Segala paradoksnya. Segala ceritanya. At least you have to try.” Kata Mas Ega nulisbuku.com, narasumber utama skripsi saya, usai wawancara.

Saat itu pun saya masih belum terpikir apa-apa. Saya masih belum tahu bagaimana perjalanan hidup saya setelah lulus kuliah. Bahkan di buku impian saya, rencana-rencana saya hanya tertulis sampai bulan Maret. Setelah wisuda, saya benar-benar tidak tahu apa yang akan saya lakukan. Saya tidak berani menerka-nerka apa yang akan terjadi. Walaupun hati saya tahu apa impian saya sebenarnya.

Di tengah berbagai kegalauan pasca dinyatakan lulus 30 Januari lalu, saya masih ingat saya menulis ini,

“Kalau pun saya harus kerja, saya ingin kerja di dunia penerbitan buku. Saya ingin sekolah lagi. Ah, sudahlah. Itu hanya rencana, dan tetap Allah yang menentukan. Saya bahkan tidak tahu kalau besok tiba-tiba saya malah kerja kantoran. Tapi mimpi saya sebenarnya ya: Menulis. Menulis. Menulis. Mencari ilmu. Berbagi sebanyak-banyaknya. (kan kalau mimpi jadi ibu rumah tangga professional harus jadi Ibu, jadi ya sebelum diberi Allah kesempatan untuk jadi ibu, mengembangkan diri dulu kan? Memperbaiki diri dan bermanfaat semaksimal mungkin).” (Melompat Lebih Tinggi, Januari 2014)

Ketika membaca potongan mimpi di atas, saya sempat kecewa sebentar. “Kok aku nggak mewujudkan mimpiku sendiri sih?” Tapi kemudian, saya lebih banyak bersyukur. Continue reading

Pemilu 2014 : Hasil yang melegakan banyak pihak

azaleav:

Baiklah, meskipun saya tidak jeli-jeli amat mengamati perkembangan partai politik, tapi tulisan seperti ini wajib diapresiasi. Cara pandangnya netral dan logis. Jadi, membuat kita berpikir bukan terprovokasi. Sudah sangat langka sekarang ini. Kebanyakan tulisan judulnya ‘Inilah Rahasia Besar Partai X’ atau ‘Bayangkan Jika Presiden Kita dari Partai Y’ yang hanya membuat banyak orang ikut share terus ikut bikin maki-makian.

Saya sendiri cukup geregetan melihat banyak partai yang saling menjatuhkan. Kejam, pula. Udah gitu terang-terangan. Saya nggak nyebut merek, hampir semuanya begitu. Walaupun dekat dengan lingkungan yang identik dengan partai tertentu, kita selalu punya logika untuk berpikir secara lebih bebas dan terbuka. Setelah itu mari tentukan. Ya sudah, pesta demokrasi tinggal menunggu hasil resmi. Mari kita berdoa untuk Indonesia tersayang.

However, Himsa. You can’t make life as ideal as you think. Allah sudah membuatnya dengan sangat seimbang. We just don’t know His Plan. But we always have choice, to learn from the past or just laugh or cry.

-mbuh ini pengantar reblog dari Himsa yang nggak jelas, saya cuma mau share tulisan menarik dari Uda Yusuf dan melepaskan keganjalan hati saya.

Originally posted on Refleksi Panggilan Jiwa:

foto_pemilu-2014_1

mengamati hasil quick count pemilu 2014, saya melihat hasil ini merupakan hasil yang melegakan untuk banyak pihak -bila saya tidak boleh sebut semua pihak-. Bagaimana tidak, hasil pemilu 2014 mengindikasikan cukup meratanya kekuatan partai di Indonesia dan menyisakan 10 partai yang -setidaknya- akan bertarung lagi di 2019.

Ada dua partai yang saya lihat ‘menang besar’ di pemilu 2014, yaitu PKB dan Gerindra, dua partai ini mengalami peningkatan drastis, masing-masing 4.22% dan 7.31%. hasil ini menempatkan mereka sebagai pemain papan menengah dan atas dalam percaturan politik Indonesia. Dua partai ini layak berbangga diri, usaha yang mereka lakukan secara konsisten sejak 2009 berakhir manis. PKB yang berhasil melewati masa konflik internal sejak kekisruhan muhaiman dan keluarga gus dur terbukti mampu mengoptimalkan tiga capres yang di gadang-gadang oleh mereka. Saya perlu berikan catatan bahwa Rhoma Irama adalah man of the match dalam pemilu 2014. Rhoma Effect tampak berdampak sangat besar dalam meningkatkan popularity…

View original 518 more words

Saya, Jatuh Cinta (Barangkali Ini Cerpen)

7-manfaat-kesehatan-dari-jatuh-cinta

Saya harus mengetik tanda koma pada judul di atas karena pada dasarnya saya pun tidak yakin dengan pendapat saya sendiri bahwa saya sedang jatuh cinta. Bukan. Bukan saat ini. Saya bahkan lupa sejak kapan. Yang jelas, jatuh cinta—entah apapun namanya—resmi membuat saya menghilang dari untaian-untaian huruf. Dua puluh empat hari tidak bisa menulis sebenarnya adalah siksaan bagiku. Begitulah. Aku tidak berani menulis karena aku jatuh cinta. Sebuah kenyataan yang sangat berbalik dengan opini publik bahwa jatuh cinta—katanya—bisa meningkatkan produktivitas.

Ah, barangkali itu benar. Jika saja cinta itu tepat. Tepat versi Tuhan—dengan segala penjagaan-Nya.

Anggaplah cerita ini adalah cerita cinta dari seseorang yang menamai dirinya sebagai ‘saya’, entah siapa nama sebenarnya.

Baiklah, kamu mungkin sudah mulai menerka-nerka jatuh cinta macam apa yang sedang pernah kualami beberapa waktu lalu ini. Iya, kamu tepat. Tentu saja saya jatuh cinta kepada seorang lelaki. Jatuh cinta yang teramat diam-diam, walaupun akhirnya gosip-gosip mulai beterbangan karena wajah saya yang tidak dapat menahan rona merah seketika namanya disebut. Semoga ia tak mendengarnya. Saya jatuh cinta hanya karena ia mencintai huruf-huruf yang saya tulis. Saya juga tak yakin apa benar itu alasannya. Toh, apapun alasannya, saya yakin wanita normal pasti mengaguminya. Entahlah, saya tidak tahu sejak kapan. Dia, yang sebenarnya hampir tidak pernah terlibat dalam kehidupan saya, tiba-tiba terasa dekat (hanya terasa). Kenapa tidak dari dulu saat ia pertama kali menyapa kami dengan sapaan “adik-adik”? Kenapa baru sekarang saya baru bisa berpendapat bahwa saya jatuh cinta? Saya juga tidak tahu. Dia, dengan segala diamnya, senyumnya yang kucuri pelan-pelan ketika tak sengaja kita berada dalam satu forum, seperti mampu mengobati luka-luka lama. Saya tahu saya harus beristighfar berkali-kali untuk perasaan yang merajai hati dengan sangat berani ini. Saya bahkan tahu saya tak boleh mengulangi kesalahan yang sama—berharap pada manusia (yang sebenarnya pun bagai pungguk merindukan satelit). Continue reading

Hujan (tak pernah sama)

image

Kemarin gerimis menyapa keringnya rasa. Aku terduduk tersenyum mengingat aku yang tak boleh mengenangnya, mengingat kemarau panjang yang mendera sejak awan berarak dari tempatku berpijak, membawa serta pula hujan yang dulu pernah menjadi teman baikku. Ya, kemarin gerimis menyapa tanah yang kini kering. Meski dalam mimpi singkat di malam hari.
Kemarin, gerimis kembali menyapa keringnya rasa. Aku susah payah menarik lagi logikaku yang melumpuh. Kalau saja awan tak berarak, kalau saja tanah ini masih subur oleh hujanmu, kalau saja.., kalau saja.., kalau saja hujan masih setia di tanah ini. Ah, mungkin tanah ini tak akan sekering ini.
Continue reading

I Have a ‘Self Confidence Crisis’

IMAG0230

Kemarin, saya bertemu dengan sahabat lama saya. Sejak kenal dia ketika SMA, saya tahu sekali dia punya rasa percaya diri yang tinggi. Cantik, jago olahraga, berprestasi, populer dan tentu saja cerdas. Ah, rasanya lengkap sekali. Tapi, ternyata saya tidak setahu yang saya kira. Dalam pertemuan kemarin—pertemuan pertama setelah hampir empat tahun masa SMA berakhir—dia bercerita banyak hal. Ada satu kalimat dia yang mengusik hati saya, “I have a self confidence crisis.” katanya jujur. Saya hampir tidak percaya.

Tidak perlu saya beberkan bentuk krisis kepercayaan diri seperti apa yang dialami oleh sahabat saya. Yang jelas, saat itu saya berpikir. Bagaimana pun seseorang terlihat sempurna di mata orang lain, seseorang itu tetaplah manusia. Selalu punya alasan untuk merasa kehilangan rasa percaya diri.

Saya kemudian mengingat cerita teman saya yang lainnya. Sama. Saya pun melihatnya sebagai sosok yang sempurna. Seorang gadis cantik, cerdas, berprestasi dan nomor satu di jurusannya. Tapi ia pun teryata sama—pernah memiliki rasa tidak percaya diri. Dan, kalau boleh jujur, tidak usah jauh-jauh, saya pun demikian. Banyak yang mengatakan bahwa seorang Himsa tidak perlu motivasi untuk punya rasa percaya diri. Bahkan banyak pula yang bertanya tips supaya bisa percaya diri. Tidak semanis yang terlihat kok.

Hmm, mungkin karena sesosok Himsa yang terlihat selama ini adalah sosok yang aktif, cerewet, dan terkesan santai di depan umum, sesosok Himsa yang adalah diri saya, tampak begitu percaya diri. Padahal, saya juga sama seperti teman-teman. Sama saja. Saya juga bingung bagaimana caranya menumbuhkan rasa percaya diri. Bahkan, dalam titik tertentu ketika saya down, saya benar-benar tidak bisa mempercayai kemampuan saya—walaupun orang lain mengakuinya. Serius. Sampai suatu ketika, saya menemukan jawabannya. Semoga bisa jadi jawaban untuk siapapun yang pernah bertanya. Continue reading

Karena Bu Risma

azaleav:

Banyak yang bilang, punya adik atau anak perempuan harus dilindungi dan disayangi. Tapi jangan sampai lupa adik atau anak laki-laki perlu perhatian yang lebih ekstra. Istighfar lihat fenomena ini. Lindungilah para lelaki penerus bangsa ini, Rabb :(

Originally posted on Islam is Fun:

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

View original 4,581 more words

2 States The Story of My Marriage

Sebelum kau membangun masa depan, kau harus memperbaiki masa lalu

—Chetan Bhagat

2 states

Sudah lama sekali saya tidak menulis review buku ya? Padahal menulis kembali apa yang telah dibaca adalah salah satu upaya untuk mengikat makna, yang membuat isi buku akan terus tertinggal di hati. Dan semoga hikmah baiknya bisa kita jadikan pelajaran dan kita terapkan. Baiklah, kali ini, di tengah profesi saya sebagai full time blogger (karena masih menunggu supaya jadi profesi lain yang sejalan, mohon doa) dan keasyikan membaca tulisan-tulisan dari sahabat Gamus, saya membaca sebuah novel kocak tapi juga bijak. Saya menemukannya ketika refreshing (baca: cuci mata di Toga Mas). Sebuah kalimat “Salah satu novelnya diadaptasi menjadi film 3 Idiots” di kover sebuah buku langsung membuat tangan saya menarik buku itu dan membaca sinopsisnya. Bahkan saya baru tahu kalau 3 Idiots itu diadaptasi dari novel (ke mana aja, Hims?). Well, kemudian galaulah saya karena baru saja 5 buku saya serahkan ke kasir. Apalagi, ada 3 judul buku dari penulis yang sama, yang sialnya juga sama menariknya, pun menggoda untuk dibeli. Ditambah lagi tulisan besar-besar “Diskon 30% untuk novel s.d. 9 Februari”. Baiklah, karena saya sadar saya terancam tidak makan kalau membeli semuanya, saya putuskan untuk ambil satu saja. Setelah menghitung kancing baju yang nggak ada kancingnya (naon?), saya memilih buku “2 States The Story of My Marriage” untuk melengkapi buku lain yang sudah di kasir.

Novel terbitan Bentang Pustaka ini tidak bisa membuatku menunggu lama. Langsung saya baca di angkot dalam perjalanan pulang, hehe. Gaya bahasanya menarik, terjemahannya tidak membingungkan sehingga masih rasa “Indonesia” walaupun ditulis oleh penulis kebangsaan India dan berlatar budaya India. Total 479 halaman sama sekali tidak membuat novel ini terasa tebal. Cerita yang seru selalu menarik untuk dilanjutkan bukan?

Chetan Bhagat—sang penulis—menceritakan tentang proses menuju pernikahan dari dua orang yang saling mencintai. Namun, dalam pernikahan, cinta saja selalu tak pernah cukup. Menurut simpulan saya, setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan untuk menuju fase tersebut: Continue reading