Kamu dan Keberuntungan

image

Suatu hari kita berbicara tentang keberuntungan dan perjuangan. Banyak hal. Aku bercerita tentang perjuanganku menghadapi masa-masa sulit dalam menyelesaikan pendidikan. Kamu pun begitu. Kamu selingi dengan cerita kesuksesan kawan-kawan dekatmu.
Kemudian kamu tertawa karena menyadari betapa sangat jauh keberuntungan darimu. Ya, keberuntungan yang didefinisikan secara umum.
“Kalau ada lucky draw atau undian berhadiah atau doorprize, aku hampir tidak pernah menang.”
Aku yang saat itu mendengarkanmu bercerita sambil ngepel tertawa dalam hati, “kalau istrimu ini Miss Doorprize, Mas. Harus dapat doorprize dalam acara apapun.” Aku tersenyum mengingat semangatku saat mengikuti suatu seminar. Rajin duduk di depan dan paling semangat saat ikut games atau aktif bertanya pada sesi pertanyaan.
Kemudian kamu tersenyum lagi, aku masih mengepel. “Tapi bukan keberuntungan seperti itu yang diberikan Allah untukku. Ternyata banyak sekali keberuntungan dalam hidupku yang harus disyukuri.”
Aku masih mengepel, kali ini kuhentikan sebentar untuk tersenyum ke arahmu, “Iya, Mas. Kalau kita bersyukur kan kita sedang beruntung?”
Kamu merebahkan dirimu di sofa, dan aku masih mengepel. Itu aturanku, hehehe. Tidak boleh ada kaki menginjak lantai saat aku mengepel sampai lantai kering. Dan kamu tak pernah protes, malah sering tersenyum saat melihatku membawa alat pel. Kamu sadar harus segera angkat kaki dari nikmatnya gelosoran di lantai.
“Mendapatkan kamu adalah keberuntungan besar buat Mas.” Gumammu. Aku sedikit tersentak. Sebenarnya aku deg-degan, tapi menutupinya dengan tertawa. Continue reading

#NulisRandom2015 (2): Perempuan dan Harapan

image

Randomisasi hari ini disponsori oleh suami yang kasih surprise karena pulang dua hari lebih cepat dari jadwal dinasnya. Wuhu! Temanya tentang perempuan dan harapan. Dua kata yang secara umum sering disandingkan. Nah apa hubungannya sama suami pulang lebih cepat? :D
Jadi begini ceritanya.. Hampir tiap bulan, ada saja suami saya dapat tugas dinas ke luar kota. Entah ke Aceh atau sekitaran Sumatera Utara. Alhasil, udah pasti dong saya sering ditinggal? Hehe. Continue reading

#NulisRandom2015 (1): Didikan Ibu

image

Uhuuuk.. Hatchiim.. Banyak sekali debunya di sini, udah berapa bulan tidak ditengok yang punya. Kayanya mesti elap-elap maksimal deh ini, hehe. Sambil elap-elap Pojok Biru biar tetap membiru, saya tetiba kepikiran untuk mulai nulis lagi setelah baca postingan Nulis Buku di FB tentang #NulisRandom2015. Yeaaah, saya akui produktivitas menulis saya menurun drastis. Malu sendiri disebut sebagai penulis karena belum ada karya baru lagi. Sebenarnya saya ada project besar yang sebentar lagi deadline, tapi beginilah, lama nggak diasah, ternyata mau mulai nulis lagi itu ada saja halangannya. Nah, karena itulah saya tertarik ikutan #NulisRandom2015. Saya mau mulai lagi menulis. Itu sih niat utamanya. Saya kangen sekali dengan dunia ini, tapi selama ini terlalu lama diam. Lebih benarnya, saya keasyikan dengan aktivitas lain (baca: memasak dan eksperimen masakan) sampai saya tidak sadar, ada rindu yang mengendap dalam dan perlu dicairkan pada dunia ini, dunia yang membuatku selalu hidup. Menulis.

Daaaan. Sama seperti 2010 lalu ketika saya mulai menulis blog, saya berlatih menulis dari menulis random. Lama-lama dari randomisasi ini (apa deh), jadi banyak ide yang tertuang. Saya menyebutnya metode otak kanan. Karena keseringan nulis random, saya jadi merasa aneh sendiri kalau sehari aja nggak menulis. Aneh pokoknya. Continue reading

Kepada Pagi

image

Aku pernah duduk sengaja menikmati bulan, seakan menghambat pagi yang sudah ditandai fajar. Aku pernah duduk berlama bernegosiasi pada matahari agar terlambat terbit. Demi romansa malam. Aku pernah duduk menangisi malam yang berlalu. Tapi tolonglah, setelah aku mengenal pagi, aku selalu menunggunya lagi. Menunggu burung-burung berkicau, embun-embun mengenyahkan dahaga, adzan subuh yang menenteramkan, hingga segelas teh hangat yang mencairkan cinta.
Maka kepadamu pagi yang harus kutunggu lagi, aku tetap di sini. Menantimu dengan senyum berbalut air mata rindu. Menunggumu dengan semangat mengapi untuk menyalakan kobar kehidupan yang penuh makna. Semoga.
Maka kepadamu pagi, kutitipkan rindu yang menggantung di langit-langit malam. Kuucapkan doa yang mengerjap di antara kerlip bintang. Kunadakan cinta di antara senyap yang menyiksaku. Kepadamu pagi. Dengan mataharimu. Dengan cintamu yang tak hanya membuatku berani berjalan menatap siang, tapi juga senyuman menikmati malam yang senyap.
Maka kepadamu pagi, kubiarkan rindu menjadi jalan untuk ridlo-Nya.

Continue reading

41014: Story About My Marriage

Keakraban dua jiwa yang ditakdirkan bersama terkadang terjalin begitu saja. Tanpa perlu waktu yang lama. Tanpa perlu debar kasmaran. Hanya ada yakin yang begitu saja menghampiri. Karena jiwa-jiwa yang disatukan oleh langit telah saling tarik menarik satu sama lain. Ketertarikan yang terkadang tak perlu penjelasan akal. Rasa tenang sebagaimana janji-Nya dalam Ar-Ruum:21 akan terasa begitu saja ada, jika cinta yang dilabuhkan di pernikahan berlandaskan cinta hakiki, karena Allah.

photo by: Whelix Photography

photo by: Whelix Photography

Bismillah, akhirnya ngeblog lagi, setelah entah sekian lama pojok biru ini jadi kusam karena penghuninya sok sibuk dengan berbagai ini itu. Ah, kebanyakan ngeles ya? Hehe. Ya sudah, berhubung suami sedang menjalankan tugas negara di ujung Indonesia dan saya nggak bisa tidur, lebih baik saya menulis. Ya, menulis untuk mengenang sebuah kisah penting dalam hidup saya. Sekaligus menunaikan janji menjawab pertanyaan ‘gimana ceritanya bisa nikah?’ dari teman-teman dan pembaca buku di berbagai chat, yang saat itu saya janjikan, ‘nanti ya tunggu di blog’. Hihi. Dan tak terasa, hari ini sudah sebulan sejak peristiwa peradaban itu terjadi di hidup saya. Siap-siap ya, agak panjang nih sekalian curhat :p. Yang pasti, semoga ada banyak hikmah yang bisa diambil. (Khususnya buat yang lagi galau soal jodoh).

Hmm, mengenang cerita ini mau tidak mau membuat ingatan saya berlari pada Oktober 2014. Bulan yang menjadi saksi bahwa impian dan doa itu benar-benar dicatat dan dikabulkan Allah dengan cara-Nya. Jadi, saya dulu punya mimpi yang saya beri judul ‘Mimpi Oktober 2014’. Sesungguhnya, itu hanya mimpi konyol saja. Mimpi bahwa saya ingin menikah atau bertemu jodoh saya di bulan Oktober 2014. Kenapa Oktober? Ini agak konyol juga sih, saya kan orangnya absurd. Saya ingin Oktober menjadi bulan spesial, bulan perantara yang menjembatani saya dan pasangan saya. Saya kan lahir November, nah saya punya mimpi konyol lagi, yaitu punya suami yang lahirnya bulan September. Jadi, nanti kita dipertemukan oleh Oktober. So sweet kan? (Padahal alay ya? Hahaha). Walaupun konyol, mimpi itu saya seriusin. Saya ingat, tidak ada doa yang tak didengar. Oktober 2013 saya punya mimpi ingin ke luar negeri, ternyata benar Allah mengizinkan saya ke Turki. Jadi, saya pikir, tak ada salahnya berani bermimpi (lagi).
Continue reading

Kepada Bulan

Kepada bulan yang pernah menertawai air mata, kusampaikan maaf karena aku beranjak. Bukan karena tak setia, tapi karena matahari sudah bersinar. Apakah aku harus menunggu malam lagi seperti kemarin-kemarin? Menolak lagi hadirnya pagi. Meski kamu tak pernah datang juga.

Kepada bulan yang juga pernah ikut menangis, kusampaikan rindu yang masih mengendap. Mengerjap. Bersembunyi di balik sinar mentari. Pagi telah datang. Tapi tak bolehkah aku merindui malam? Seperti kemarin. Seperti ribuan malam sebelum ini. Saat aku terduduk menatap bulan. Meskipun kamu tak pernah ada.

Pagi telah datang. Aku telah beranjak. Dan bulan baru saja mengabariku, kamu akhirnya datang. Dan aku, baru saja beranjak meninggalkan malam.

Continue reading

Mengenalmu

imageKamu dan aku adalah dua manusia asing yang lalu dipertemukan dengan keyakinan yang menghujam. Bahwa kamulah yang ridlonya kelak akan mengantarku ke surga. Bahwa akulah awak kapal yang akan kaunahkodai dalam samudera hidupmu. Begitu saja.

Kamu dan aku adalah dua manusia asing yang dipertemukan dengan keyakinan yang entah begitu saja. Cinta? Entah pula. Bagaimanalah. Jika cinta adalah mengenal, maka sekali lagi, kita adalah dua manusia asing.

Continue reading